Sabtu, 20 Maret 2021

BABAD ALAS MENTAOK

A. Panembahan Senapati. 
Alas Mentaok merupakan ganjaran dari Sultan Hadiwijaya. Raja Pajang ini memberi Alas Mentaok kepada Ki Ageng Pamanahan. Inilah cikal bakal wilayah Mataram. 

Ngeksiganda adalah sebutan untuk daerah pusat Mataram. Babad Kotagedhe merupakan dokumen historis. Nilai keluhuran dan keagungan menyertai berdirinya kerajaan Mataram. Babad Alas Mentaok atas restu Sultan Hadiwijaya raja Pajang. 

Kraton Mataram berdiri pada tahun 1582. Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah adalah permaisuri Panembahan Senapati raja Mataram. 

Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah putri Ki Ageng Penjawi Bupati Pati. Sebagai garwa prameswari raja Mataram, Raden Waskitha Jawi memberi sumbangan buat pembangunan ibukota kerajaan Mataram di Kotagedhe. 

Tenaga, pikiran, harta benda diberikan kepada Kerajaan Mataram. Kecerdasan, kekayaan dan kewibawaan putri Bupati Pati sungguh memancar berseri seri. Kerajaan Mataram memang berhutang budi. 

Garwa prameswari Panembahan Senapati dari Pati memang mustikaning putri, tetungguling widodari. Layak mendampingi Wong Agung ing Ngeksiganda. 

Sinom

Nulada laku utama,
Tumrape wong Tanah Jawi,
Wong agung ing Ngeksiganda,
Panembahan Senapati,
Kepati amarsudi,
Sudane hawa lan nepsu,
Pinesu tapa brata,
Tanapi ing siyang ratri,
Amamangun karyenak tyasing sasama.

Deskripsi tentang keteladanan Panembahan Senapati yang mendirikan kerajaan Mataram tahun 1582 diterangkan dalam serat Wedhatama. Sri Mangkunegara IV sebagai keturunan langsung Panembahan Senapati mengajak masyarakat untuk mencontoh perilaku Panembahan Senapati. Sebagai raja yang mengutamakan kepentingan orang banyak.

Lagu sinom yang diciptakan tahun 1853 ini berisi tentang ajaran keutamaan yang telah diwariskan oleh Panembahan Senopati. Beliau adalah raja Mataram yang pertama. Sebagai seorang pemimpin Panembahan Senopati berhasil mengendalikan tingkah lakunya. Beliau mau memperkokoh jati diri dan selalu mawas diri. Dengan rakyatnya senantiasa berbuat kebajikan yang dapat menyenangkan pada sesama. Sikap hidup yang perlu dicontoh oleh sekalian pemimpin.

Tembang sinom Parijatha iku kapethik saka Serat Wedhatama kang dianggit dening Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV. Panjenengane ngasta minangka adipati ing Mangkunegaran nalika taun 1853 – 1881. Kanggone para seniman tembang sinom mau mathuk minangka mat matan. Lagune kepenak lan cakepane mawa pitutur luhur. Wong Jawa perlu nulad kautaman kang wis diwarisake dening Panembahan Senapati, raja ing Kraton Mataram.

Dalam lintasan sejarah Kotagedhe telah sukses menyumbangkan keagungan peradaban. Kerajaan Mataram didirikan setelah babad Alas Mentaok. Mataram beribukota di Kotagedhe atau Kutha Ageng.

 Pendiri kerajaan Mataram yaitu tiga serangkai yang amat misuwur. Ketiga tokoh itu adalah Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Penjawi dan Ki Ageng Juru Martani. Sesepuh Mataram ini nyata sebagai jalma limpat seprapat tamat. Beliau berilmu tinggi, kebak ngelmu sipating kawruh, putus ing reh saniskara.

Dalam Babad Mentawis disebutkan kiprah Ki Ageng Giring yang mempunyai spesialis ilmu nggiring. Orientasi keilmuan sebatas pada wacana menggiring. Titik temannya sebatas tut wuri handayani. Sebagai rakyat sewajarnya memberi dorongan pada pemerintah yang mendapat mandat. Inilah penerapan konsep manunggaling kawula Gusti.

Adapun Ki Ageng Pemanahan memiliki ilmu manah. Tempat tinggalnya di Manahan yang masih wewengkon Kasultanan Pajang. Beliau penasihat utama raja Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Bagi Ki Ageng Pemanahan pola pikir hendaknya selaras dengan laku dikir. Penerapannya terjabar pada konsep Kejawen sembah raga, sembah cipta, sembah jiwa, sembah rasa. Tasawuf Islam mengajarkan syariat tarikat hakikat makrifat.

Pemilik ilmu tingkat sangkan paraning dumadi yakni Panembahan Senapati. Manggalih adalah manunggaling barang kalih, yaitu kepala dada yang digambarkan dengan orong orong. Ajaran Kanjeng Sunan Kalijaga, guru suci ing Tanah Jawi cukup menjadi solusi. Pada saat pembangunan Masjid Agung Demak Bintara perlu penyempurnaan. Saka guru Masjid lantas dijangkepi dengan anyaman tatal kang sambung sinambung.

Panembahan Senapati tokoh yang mampu membangun peradaban besar. Saben mendra saking wisma lelana laladan sepi. Ngingsep sepuhing sopana mrih pana pranaweng kapti. Dalam prakteknya beliau selalu amemangun karyenak tyasing sesama. Ikut serta dalam memelihara perdamaian dunia yang berdasarkan keadilan abadi.

Begitu tangguh, sepuh, utuh, wanuh, gambuh penghayatan ilmu pengetahuan yang dimiliki Panembahan Senapati. Kanjeng Ratu Kidul, penguasa pantai selatan pun kalah perbawa. Dari Kotagedhe menuju Kedaton Kanjeng Ratu Kidul yang disebut Saka Domas Bale Kencana. Di sanalah Panembahan Senapati melakukan meditasi dan refleksi spiritual. Ilmu iku kelakone kanthi laku.

Nama kecil Panembahan Senapati adalah Sutawijaya, yang bermakna anak Sultan Hadiwijaya, raja Pajang. Sejak lahir hingga dewasa, Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar memang diasuh oleh Sultan Hadiwijaya. Di Kasultanan Pajang Sutawijaya digembleng lahir batin. Diberi pelajaran ilmu kanuragan jaya kawijayan. Ilmu tata negara diberikan Ki Juru Martani. Ilmu diplomasi kenegaraan diajarkan oleh Ki Ageng Penjawi. Sutawijaya menjadi pribadi paripurna.

Alas Mentaok merupakan cikal bakal bumi Mataram Kotagedhe. Mentaok berarti dimen taberi olah kawruh. Maka trah Mataram harus wignya tembung kawi. Kawruh agal alus, sesuai kumandang sastra gendhing. Danang Sutawijaya dipilih oleh Sultan Hadiwijaya sebagai raja Mataram Kotagedhe atas restu Kanjeng Sunan Giri Parepen. Kebijaksanaan Sultan Pajang ini dalam rangka politik kompromi antara trah Pajang dan keturunan Sultan Demak Bintara.

Kanjeng Sultan Hadiwijaya membekali dua pusaka utama. Tombak Kyai Plered dan Rontek Tunggul Wulung. Tombak Kyai Plered warisan Ki Ageng Banyubiru. Ampuhnya setarap dengan Tombak Kyai Baru Klinthing milik Ki Ageng Mangir. Ujung tombak Kyai Plered terdapat zat kimia yang menyemburkan gas beracun. Korbannya yaitu Arya Penangsang, adipati Jipang Panolan.

Pusaka Rontek Kyai Tunggul Wulung sejenis bendera gula kelapa. Pusaka ini warisan Adipati Sri Makurung Handayaningrat. Beliau Bupati pengging yang menikah dengan Ratu Pembayun, putri Prabu Brawijaya V. Kyai Tunggul Wulung penting sekali. Gunanya untuk menyingkirkan pageblug mayangkara. Segala macam penyakit menular akan pergi ketika Rontek Kyai Tunggul Wulung berkibar. Bencana alam, banjir, Gunung meletus, gempa bumi cukup diatasi dengan kitab pusaka Rontek Kyai Tunggul Wulung.

Danang Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar dinobatkan menjadi raja Mataram Kotagedhe , nak tumanak run tumurun. Bergelar Panembahan Senapati ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panetep Panatagama. Berkuasa di kerajaan Mataram tahun 1584 sampai 1601. Beliau juga mendapat julukan Wong Agung ing Ngeksiganda. Sejak itu pedoman raja Mataram adalah agama ageming aji.

Raden Ajeng Waskitha Jawi merintis perjuangan dengan sepenuh hati. Supaya ibukota Kraton Mataram berdiri kokoh terhormat dan bermartabat. 

Ngabehi Loring Pasar menunjukkan bahwa raja Mataram ahli marketing. Demi keselarasan produksi distribusi dan konsumsi. Inilah jalan untuk mewujudkan tata kelola ekonomi yang berimbang. 

B. Wong Agung ing Ngeksiganda. 

Panembahan Senapati mendapat gelar Wong Agung ing Ngeksiganda. Beliau akrab dengan para bupati pesisir. 
Peran Kabupaten Pati di Kotagedhe Mataram. Raden Ajeng  Waskitha Jawi adalah pendekar sejarah Pati. Tata wilayah Kotagedhe sebagai ibukota Mataram berhubungan erat dengan sejarah Kabupaten Pati dan Gresik. Garwa prameswari Panembahan Senapati adalah Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Beliau putri Bupati Pati, Ki Ageng Penjawi. Ibunya berasal dari keluarga kalangan Wali Sanga. Beliau bernama Raden Ayu Panengah, putri Kanjeng Sunan Giri Parepen di Gresik.

Asal usul Ki Ageng Penjawi cukup berbobot. Ayahnya adalah Ki Ageng Ngerang, tokoh masyarakat Juwana. Sedangkan Ki Ageng Ngerang merupakan anak Ki Ageng Getas Pendawa. Orang tua Ki Ageng Getas Pendawa adalah Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih. Raden Bondan Kejawan putra Prabu Brawijaya V, raja Majapahit. Dewi Nawangsih adalah putri Ki Ageng Tarub yang menikah dengan Dewi Nawangwulan. Bila ditarik ke atas masih keturunan Bupati Wilwatikta Tuban.

Masa kanak kanak Ki Ageng Penjawi digunakan untuk belajar dan bekerja. Beliau pernah mengabdi kepada Pangeran Hadirin, suami Kanjeng Ratu Kalinyamat Jepara. Pangeran Hadirin adalah menantu Sultan trenggana yang menjadi saudagar kaya raya.

Berasal dari kerajaan Samudera Pasai Aceh. Kekayaan yang berlimpah ruah ini digunakan untuk menyumbang pembangunan di Karaton Demak Bintara. Melihat bakat dan kemampuan Ki Ageng Penjawi ini, Pangeran Hadirin memberi beasiswa. Biaya hidup, perjalanan dan operasional ditanggung penuh. Malah boleh dikatakan turah turah.

Pada tahun 1559 sampai 1564 Ki Ageng Penjawi berguru ke Persia Iran. Waktu itu negeri Persia Iran diperintah oleh dinasti Safawi. Rajanya bernama Sri Baginda Sultan Qajar Pahlewi Syah. Ki Ageng Penjawi belajar ilmu arsitektur, kesusasteraan, tata kota, bangunan monomen dan sejarah Britania. Selama belajar di negeri Persia Iran Ki Ageng Penjawi menggunakan nama Abdullah Mukmin Pahlewi.

Kanjeng Ratu Waskitha Jawi mendapat status the First Lady Karaton Mataram dengan modal yang sangat besar. Leluhurnya memang bangsawan terhormat, trahing kusuma rembesing madu, wijining atapa, tedhaking andana warih. Dari jalur ibu dan bapaknya adalah tokoh sejarah Jawa. Proses pendidikan dan kepribadian dijalani dengan begitu rapi. Layak menduduki permaisuri Panembahan Senapati. Dari guwa garba rahimnya lahir Raden Mas Jolang. Kelak menjadi raja kedua Mataram. Bergelar Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati, yang memerintah kerajaan Mataram tahun 1601 sampai 1613.

Atas prakarsa Kanjeng Ratu Waskitha Jawi, Sinuwun Prabu Hadi Hanyakrawati menikah dengan Ratu Banuwati. Beliau putri Pangeran Benawa, putra Sultan Hadiwijaya raja Pajang. Dari pernikahan ini lahir Raden Mas Jatmika. Nanti menjadi raja ketiga Mataram dengan gelar Sultan Agung Hanyakrakusuma. Memerintah kerajaan Mataram tahun 1613 sampai 1645.

Selama bertugas sebagai ibu negara kerajaan Mataram, Kanjeng Ratu Waskitha Jawi aktif membangun Kotagedhe. Jarak antar kota dibuat sejauh 30 km. Inspirasi penjarakan kota ini berasal dari Persia Iran. Dengan alasan jalannya kuda normal ditempuh maksimal 30 km. Jarak pasar sebagai pusat perbelanjaan dibuat sekitar 5 km. Dengan argumentasi orang jalan normal dapat menempuh 5 km. Kotagedhe dibangun dengan landasan logika etika estetika.

Inspirasi dari negeri Persia Iran amat dominan dalam membangun istana Kotagedhe. Istana Mataram dibangun dengan kayu jati Cepu. Tukangnya dari juru ukir Jepara. Batu marmer dari Tulungagung. Tengah kota dibangun alun alun sebagai sarana space public. Ruang umum ini berfungsi sebagai pelepas lelah, hiburan dan menjalin komunikasi sosial. Tak lupa dibangun Masjid untuk beribadah. Masjid agung dilengkapi bedug dan kenthongan. Baru kemudian dibangun pasar untuk transaksi barang dan jasa.

Pengaruh Kanjeng Ratu Waskitha Jawi sangat kuat di Kotagedhe. Wajar saja, karena beliau orang kaya. Usaha dari keluarga Pati meliputi kayu jati, semen, minyak, pari gaga dan burung perkutut. Perusahaan multi bidang yang diwarisi dari Ki Ageng Penjawi tersohor di Asia Tenggara.

Bahkan Kanjeng Ratu Waskitha Jawi berhasil pula mengembangkan bisnis perikanan, pelayaran dan pelabuhan di Jepara, Tuban dan Semarang. Ketrampilan usaha ini dikembangkan di Kotagedhe. Pemuda pemudi Mataram dilatih untuk mengembangkan beragam kerajinan. Muncullah industri kerajinan perak berkualitas eksport.

Kerajinan perak Kotagedhe maju pesat. Kewirausahaan orang Kotagedhe teruji dalam lintasan sejarah. Ini berkat jasa Kanjeng Ratu Waskitha Jawi. Industri batik juga dibina. Hanya saja tempatnya di wilayah sekitar bengawan Solo. Tepatnya di sekitar kawasan Laweyan. Untuk penasaran hasil bumi dikembangkan di daerah Karangkajen. Pusat kuliner sate klathak dipilih sepanjang daerah wonokromo. Naluri bisnis Kanjeng Ratu Waskitha Jawi amat tajam. Kotagedhe sebagai ibukota Mataram benar benar loh subur kang sarwa tinandur, jinawi murah kang sarwa tinuku.

Kanjeng Sultan Agung membuat kebijakan baru. Pada tahun 1613 sampai 1645 ibukota Mataram pindah ke Kerta. Pada tahun 1645 sampai 1677 ibukota Mataram pindah ke Plered. Masa pemerintahan Sinuwun Amangkurat Tegal Arum. Pada tahun 1677 sampai 1745 ibukota Mataram di Kartasura. Tahun 1745 sampai 1755 ibukota Kerajaan Mataram di Surakarta. Pada tanggal 13 Pebruari 1755 ada perjanjian luhur. Namanya perjanjian Giyanti. Kerajaan Mataram semakin arum kuncara.

Namun demikian, Kotagedhe tetap dianggap sebagai pepundhen oleh para Pangageng Mataram. Tiap bulan ruwah utusan keraton Surakarta dan Yogyakarta marak sowan ing Kotagedhe. Mengapa? Karena the founding fathers Mataram kang wus surut ing kasedan jati, sumare ing Puroloyo Kotagedhe.

Agar lebih utuh dalam memahami Kotagedhe, perlu disertakan peran aktif warga Pati. Terutama peran Raden Ajeng Waskitha Jawi. 

C. Hak Kelola Kotagedhe Menurut Perjanjian Giyanti. 

Tanda tangan perjanjian Giyanti terjadi pada tanggal 13 Pebruari 1755. Kotagedhe, Ngawen dan Imogiri sepenuhnya menjadi hak Karaton Surakarta Hadiningrat. 

Wilayah ini secara historis dan kultural berkiblat pada budaya Karaton Surakarta Hadiningrat. Terutama untuk daerah Imogiri dan Kotagedhe. 

Perkembangan selanjutnya untuk wilayah Ngawen Gunung Kidul menjadi hak kelola Pura Mangkunegaran. Sesuai dengan perjanjian Salatiga pada tangga 17 Maret 1757.
 
Kedua perjanjian ini selalu menyertakan pembesar Pati. Tentu sesuai dengan tradisi sejarah. 
Ki Ageng Penjawi berjuang keras dalam mendirikan Kerajaan Mataram. Sanak kadang pawong mitra bergiliran membangun kotagede. 

Kayu jati terpilih dari Cepu disumbangkan. Sebagian membawa minyak tanah dari Bojonegoro. Semen dari Tuban digunakan untuk bahan bangunan. 

Untuk kebutuhan logistik konsumen ada yang membaca bumbu kecap Purwodadi. Trasi dibawa dari Lasem Rembang. Semua dikoordinir oleh Ki Ageng Penjawi. 

Andil warga Pati pada Mataram untuk mendukung Raden Ajeng Waskitha Jawi. Putri Ki Ageng Penjawi ini sungguh wanita tangguh ampuh utuh. 

Kotagedhe wilayah strategis dalam sejarah peradaban Jawa. Perjanjian Giyanti ditanda tangani di desa Giyantiharjo Karanganyar Jawa Tengah pada tanggal 13 Pebruari 1755.

 Terjadi pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwono lll yang memerintah tahun 1749 sampai 1788.. Beliau mendapat julukan Sinuwun Suwarga. Artinya raja yang ikhlas lahir batin.

 Pelopor perdamaian di tanah Jawa. Tidak cuma itu, Sinuwun Paku Buwono lll pada tanggal 17 Maret 1757 menanda tangani perjanjian Salatiga. Perjanjian Giyanti mengesankan Pangeran Mangkubumi menjadi raja Yogyakarta dengan gelar Sultan hamengku Buwono l. Perjanjian Salatiga meresmikan Raden Mas Said berkuasa dengan gelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya mangkunegara l. Semua itu terjadi atas kemurahan hati Kanjeng Sinuwun Paku Buwono lll. Beliau raja besar yang ahli sejarah, teater, sosiologi, sastra budaya. Semasa mudanya bernama Gusti Raden Mas Suryadi kerap berperan sebagai sutradara teater keliling.

Karya Sinuwun Paku buwono lll yang terkenal adalah Serat Wiwaha Jarwa. Dalam seni pedalangan digubah menjadi lakon Begawan Mintaraga. Sebagian menyebut cerita Begawan Ciptowening. Pada tahun 1966 RS Subalinata dari Fakultas Sastra UGM meneliti Reriptan Sinuwun Paku Buwono lll dalam bentuk skripsi.

Karya ilmiah menkaji budaya. Dr Kuntara Wiryamartana pada tahun 1987 membahas karya Paku Buwono lll dalam disertasi yang diterbitkan menjadi buku oleh Duta Wacana University Press. Disertasi itu diajukan di hadapan wibawa Senat UGM dengan promotor utama Prof Dr A Teuuw dari Universitas Leiden.

Sebelum tanda tangan soal kenegaraan, Sinuwun Paku Buwono lll selalu sowan ke Puroloyo Kotagedhe. Minta lilah dan petunjuk pada leluhur Mataram. Beliau juga mahas ing ngasepi di gunung Lawu, tempat muksanya Prabu Brawijaya V. Tiap bulan ruwah tak lupa siram jamas di Umbul Ngabehan Pengging. Sekali tempo melakukan tapa kungkum di kahyangan Dlepih Tirtamaya Wonogiri. Kadang kadang lek lekan, cegah dhahar lawan guling di Gunung Danaraja. Untuk kontemplasi beliau memilih tempat ing tepis wiringing gisik Bekah.

Menurut isi perjanjian Giyanti, wilayah Kotagedhe, Imogiri dan Ngawen milik sepenuhnya Karaton Surakarta Hadiningrat. Kotagedhe, Imogiri Ngawen dijadikan wilayah setingkat Kabupaten. Pimpinan yang mengelola ketiga wilayah ini mendapat status Bupati. Mereka bertugas atas perintah dan bertanggung jawab kepada Karaton Surakarta Hadiningrat.

 Alangkah indahnya bila hubungan kultural itu tetap dilestarikan sampai sekarang, demi menggali kearifan lokal. Kata Bung Karno, jasmerah jangan sekali kali meninggalkan sejarah. Wawasan kebangsaan bisa dianyam dengan pelestarian budaya.

Masjid agung Kotagedhe dibangun oleh Sinuwun Paku Buwono X, raja Surakarta yang memerintahkan tahun 1893 sampai 1939. Beliau raja kaya raya. Punya saham di perusahaan pabrik gula sebanyak 176 buah. 

Perkebunan teh di Ampel Boyolali, perkebunan tembakau di Tegalgondo Klaten dan perkebunan kopi di Kembang Semarang. Kejayaan dan kemakmuran digunakan untuk mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat.

 Masjid Kotagedhe sebagai benda cagar alam dibangun megah mewah tahun 1926. Priyagung yang hendak sumare di Puroloyo Kotagedhe, terlebih dulu dilakukan tata cara. Bertempat di Masjid Puroloyo yang dipimpin oleh abdi dalem pamethakan. Pusaka kerajaan Mataram dirawat oleh abdi dalem. 


D. Tombak Kyai Plered. 

Raja Pajang memberi bekal pusaka kepada Danang Sutawijaya. Namanya Tombak Kyai Plered. Pusaka ini sangat tinggi daya tuah. 

Arya Penangsang bisa takluk. Makanya Tombak Kyai Plered dijadikan pusaka sipat kandel kerajaan Mataram. Disimpan di gedong pusaka Kotagedhe. 

Puroloyo Kotagedhe sebagai Pajimatan Mataram. Makam kotagede dibangun tahun 1584. Dua tahun setelah babad Alas Mentaok. Ki Ageng Pemanahan yang lebih dulu sumare. 

Puroloyo Kotagedhe tempat sumare Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya, Ki Ageng Pemanahan, Ki Ageng Juru Martani, Panembahan Senapati dan Prabu Hadi Hanyakrawati. Puroloyo Mataram ini dibangun dengan begitu agung dan anggun. Upacara nyadran dilaksanakan setiap bulan ruwah oleh Karaton Surakarta Hadiningrat dengan segala kesungguhan.

Tata cara ini wujud mikul dhuwur mendhem jero. Segenap abdi dalem Kotagedhe dan Imogiri sowan ke Karaton Surakarta Hadiningrat tiap ada acara tingalan jumenengan dalem dan upacara Grebeg Mulud. Sebelah makam dibangun Masjid Puroloyo yang asri. 

Untuk kepengurusan Masjid Kotagedhe diserahkan pada takmir secara otonom. Tapi semua biaya disediakan oleh Karaton Surakarta Hadiningrat. Umumnya takmir masjid Agung Kotagedhe pernah mengenyam pendidikan agama Islam di Mambaul Ulum. Letak kantornya di kompleks Masjid agung Karaton Surakarta Hadiningrat. Kegiatan belajar mengajar di Mambaul Ulum menempati beberapa lokasi yang menyebar sampai kawasan Sri Wedari.

Takmir Masjid di Pajimatan Imogiri dan Puroloyo Kotagedhe sejak masa pemerintahan Patih Sosrodiningrat selalu dibekali pendidikan yang cukup. Mambaul Ulum adalah lembaga pendidikan tinggi Islam yang dikelola dengan kurikulum modern. Alumni pendidikan Mambaul Ulum misalnya Prof Dr HM Rasyidi Atmosudigdo, Prof Dr Mukti Ali dan Munawir Zadzali MA, pernah menjabat Menteri Agama RI.

Tokoh Kotagedhe alumni Mambaul Ulum yaitu Zubair Muhsin yang aktif dalam bidang sosial keagamaan. Pahlawan nasional Prof Dr Abdul Kahar Muzakkir adalah alumni Mambaul ulum Surakarta yang melanjutkan belajar di Perancis, Mesir dan Nederland. Mambaul Ulum telah memberi pencerahan pada putra bangsa.

Patih Sasradiningrat sebagai Perdana Menteri Karaton Surakarta Hadiningrat amat peduli pada pergerakan islam. Bahkan beliau juga menjabat ketua PDM Muhamadyah Surakarta. Bersama dengan KGPH Hangabehi turut membantu organisasi Budi Utomo dan Sarikat Islam.

Pada tahun 1945 Drs Sasradiningrat juga, alumni Universitas Leiden menjadi anggota BPUPKI. Utusan Karaton Surakarta Hadiningrat dalam BPUPKI lainnya yaitu Dr Radjiman Wedyadiningrat, KGPH Surya Hamijaya, RMAA Drs Wuryaningrat, RP Singgih. Presiden Soekarno diberi kursus oleh Drs RMAA Sasradiningrat tentang sistem protokol kenegaraan.

Karaton Mataram memberi warisan kultural. Sejarah sebagai piranti kaca benggala untuk membaca owah gingsire jaman. Hubungan historis Karaton Surakarta Hadiningrat dengan Kotagedhe sampai sekarang tetap semangat dan hangat. Daerah Laweyan Solo, Kotagedhe dan Pekajangan Pekalongan adalah contoh koneksi historis dan bisnis. Jaringan ini bisa digunakan untuk merajut nilai kebangsaan. Generasi muda perlu belajar sejarah peradaban masa lampau.

Kedudukan Kotagedhe mendapat perhatian khusus dari kalangan akademis. Prof Dr Notonagoro adalah guru besar dan ahli filsafat Pancasila UGM. Beliau merup menantu Sinuwun Paku Buwono X. Saat sembahyang di Masjid Kotagedhe, beliau selalu berdoa untuk para pendiri Mataram. Dalam kehidupan sehari hari Prof Dr Notonagoro menghayati kebudayaan leluhur dengan sepenuh hati.

Guru besar UGM ini tahun 1983 wafat dan dimakamkan di pajimatan Imogiri. Satu kompleks dengan makam raja Surakarta. Kesadaran kultural ini dilanjutkan oleh murid muridnya yang mendapat nama sesebutan dari Karaton Surakarta dengan pangkat Bupati Riya Inggil.

Kotagedhe memang telah menjadi monumen sejarah kebesaran Karaton Mataram. Sungguh besar jasa Panembahan Senapati yang dibantu oleh Kanjeng Ratu Waskitha Jawi.

Putri Penjawi dari bumi Pati adalah wanita sembada wiratama. Prameswari Mataram yang tampil sebagai mustikane putri, tetunggule widodari.
Lukisan tentang pengembaraan spiritual Panembahan Senopati tercantum dalam Serat Wedhatama berikut ini.

Sinom

Saben mendra saking wisma,
Lelana laladan sepi,
Ngingsep sepuhing supana,
Mrih pana pranaweng kapti,
Tis tising tyas marsudi,
Mardawaning budya tulus,
Mesu reh kasudarman,
Neng tepining jala nidhi,
Sruning brata kataman wahyu dyatmika.

Tata laku ini didukung oleh para ahli nujum Pati. Pengembaraan spiritual Panembahan Senopati di atas memberi inspirasi bagi generasi selanjutnya, agar mau melakukan refleksi dan kontemplasi. Kata Jalanidhi yang biasanya diterjemahkan sebagai samudera atau laut, juga merupakan kata kiasan bagi kehidupan. Menyepi atau menyendiri di tepi laut berarti, melihat kehidupan ini secara objektif dan seutuhnya.

Untuk itu Panembahan Senopati sering sekali melakukan meditasi di pinggir laut, memisahkan diri dari keramaian dunia dan memandang kehidupan ini, sebagai seorang saksi. Menjadi seorang saksi berarti tidak menganggap diri kita sebagai pelaku.

Nyata sekali bahwa sulit sulit gampang dan gampang gampang sulit. Selama kita menganggap diri kita sebagai pelaku, selama itu pula keangkuhan kita masih utuh. Kita tidak akan pernah bisa melihat kehidupan ini secara objektif. Demikian Anand Krisna memberi wejangan tentang spiritualitas raja Mataram.

Putri Pati berjasa besar. Kotagedhe tiap hari ramai oleh pengunjung yang cinta sejarah. Mereka berharap ngalap berkah dari leluhur. Biar menemukan kedamaian dan ketentraman.

Berdirinya Karaton Mataram berhubungan erat dengan Kabupaten Pati. Ki Ageng Penjawi Bupati Pati berjasa besar atas kokohnya Kraton Mataram. Putrinya bernama Raden Ajeng Waskitha Jawi adalah garwa prameswari Penembahan Senapati.

Putri Pati yang menjadi Permaisuri raja Mataram merupakan pengusaha kaya raya. Harta benda ini untuk membangun infrastruktur Kerajaan Mataram yang berdiri tahun 1582.

Raden Ajeng Waskitha Jawi, Permaisuri Panembahan Senapati dikenang sepanjang masa. Warga Pati begitu bangga, karena telah memberi sumbangan besar atas tegaknya peradaban yang agung dan anggun.

Hubungan antara Pati dengan Mataram amat dekat. Pembangunan istana Mataram didukung penuh oleh pangageng Pati. Urunan itu berupa berang dan jasa. Terbentuklah ibukota Kraton Mataram yang megah mewah indah gagah meriah.

Babad Kotagedhe memuat keteladanan. Berakit rakit ke hulu, berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahulu, bersenang senang kemudian. Orang hidup harus mau prihatin untuk mengejar cita cita. Sebagai mana yang dicontohkan oleh Panembahan Senapati.

Alas Mentaok hadiah dari Sultan Hadiwijaya raja Pajang tahun 1546 - 1582. Ki Ageng Pamanahan membuka Alas Mentaok menjadi Ngeksiganda. Sejak tahun 1582 Panembahan Senapati menata Ngeksiganda menjadi Kerajaan Mataram.

Oleh Dr Purwadi M.Hum. 
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA. 
Hp 087864404347 

BABAD PONGGOK COKRO TULUNG POLANHARJO

A. Kawasan Mata Air Jernih. Kejernihan mata air kawasan Ponggok Cokro Tulung Polanharjo membawa kejayaan historis. Tata praja, seni sastra bahasa budaya tampil mengagumkan. 

Sumbangan berharga telah diberikan pada jagad raya. Untuk membangun peradaban yang bersinar terang. Warisan budaya itu diteruskan turun tumurun. 

Popularitas kawasan ini tinggi. Maka banyak hajad kenegaraan yang diselenggarakan di sekitar Ponggok Tulung Cokro Polanharjo. Contoh rapat koordinasi di berbagai instansi. 

Undangan rapat jurusan Pendidikan Bahasa Daerah kali ini amat menggembirakan. Hari Rabu 17 Maret 2021 jam 13 berangkat dari Pendopo Tejokusumo Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta. Kampus Karangmalang bercuaca terang benderang. 

Rombongan menuju Homestay Ponggok Karanganom Klaten. Tim naik mobil yang diantar oleh Mas Cholis. Mampir dulu di warung sate gule Mbak Wahyu, depan pasar Kraguman Jogonalan Klaten. Sepanjang jalan rembugan tentang perkembangan kebudayaan Jawa. Tentu dalam situasi informal yang bikin seneng dan gayeng. 

Sebetulnya dipilih tempat rapat yang khusus berkaitan dengan faktor kesejarahan. Umbul Ponggok Karanganom merupakan tonggak sejarah berdirinya Kabupaten Klaten. Sekilas perlu dirembug keberadaan Umbul Ponggok. 

Rapat pembentukan Kabupaten Klaten pada 12 Rabiul Awal 1731 atau 28Juli 1804. Waktu berdirinya Kabupaten Klaten ini ditandai dengan candra sengkala Rupa Mantri Swaraning Jalak. 

Patih Sosrodiningrat II memimpin jalannya acara. Atas dukungan Raden Ajeng Sukaptinah atau Gusti Kanjeng Ratu Kencana Wungu. Beliau adalah garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV, raja Karaton Surakarta Hadiningrat yang memerintah tahun 1788 - 1820.

Tempat rapat pembentukan Kabupaten Klaten dulu di pendopo Ponggok Karanganom Klaten. Banyaknya mata air alam menjadi pertimbangan utama. Patirtan Ponggok mengalir bening. Air digunakan untuk pertanian perkebunan perikanan. Dengan demikian Umbul Ponggok punya nilai historis tinggi. 

Beras delanggu terkenal enak pulen gurih. Kebun tembakau Tegalgondo disebut dengan tembakau vorstenlanden. Perikanan untuk memelihara gurameh bader wader lele mujahir nila tambra.

Tegalgondo sentra kebun tembakau. Kebun teh bersentra di Amoel. Kebun kopi bersentra di Kembang. Perkebunan ini terjadi sejak tahun 1870 jaman Sinuwun Paku Buwana IX. Ponggok merupakan wilayah kesayangan istana. 

Wisata alam berkembang sejak dulu kala. Kolam renang di berbagai tempat ramai pengunjung. Lelumban lan byur byuran menjadi daya tarik utama buat hiburan dan liburan keluarga. Harga mudah murah terjangkau. 

Homestay Mami menempati kawasan wisata utama Ponggok Karanganom Klaten. Pelanggan datang silih berganti. Ndalidir lir pendah sela brekithi. Sela watu, brekithi semut. Artinya tamu hadir terus menerus, lumampah tan ana pedhote. 

B. Pesanggrahan Ponggok. 

Tepat dan cepat bila Homestay Mami jadi pilihan istirahat para wisatawan. Begitulah cara menggerakkan sistem ekonomi kreatif. Wisata dan budaya merupakan program utama. 

Untung sekali buat pelaku wisata. Mbak Avi Melawati membawa rombongan pendidikan bahasa Jawa UNY. Bertempat di Homestay Mami Ponggok Karanganom Klaten. Lokasi ini dekat dengan Umbul cakra pengging Tulung. Tim membahas proposal program doktor. Kegiatan ilmiah dikerjakan di lingkungan yang ramah. 

Aman nyaman ayem tentrem ayom agrom suasana penginapan yang dikelola Mbak Avi sekeluarga. Prof Dr Suharti, Prof Dr Endang Nurhayati, Dr Afendy Widayat,  Avi, Purwadi, Galang, Yayan, Doni bersemangat untuk melancarkan program jurusan. Terlebih dahulu dengan diskusi ringan di serambi Homstay Mami. Tersedia suguhan kacang, srabi, keripik, criping, tahu. Lahap dan nikmat dikedhapi saat sore hari.

Teh hangat diminum terasa segar. Jeruk apel semangka tak ketinggalan. Ideal sekali cara kerja yang menggunakan konsep produksi dan kreasi untuk edukasi. Ngemil dengan makanan kecil terus saja nggathuk, tiada henti. Jelas jadi suasana yang cocok.

Halaman Homestay  ditata asri. Bunga kembang rapi merak ati. Ruang loby anggun dan agung. Mas Yayan Rubiyabto setia dengan dialog peradaban. Beragam tema dibahas dengan jelas tuntas dan tegas. Dosen Pendidikan agama Islam ini alumni UIN Sunan Kalijaga yang bertugas di UNY. Semua berharap lancar berkarir.

Hujan rintik rintik menambah rasa sejuk. Ponggok memang dekat dengan Umbul Cokro Pengging. Lantas ingat rerepen yang berkumandang.

Gumrojok banyu bening.
Tuking gunung Umbul Cokro Pengging.
Mili ngetan tumuju kali Larangan.
Kartasura Surakarta.
Sakbanjure mili neng bengawan Gedhe.

Air Ponggok menuju ke kali Larangan. Mengairi kota Surakarta. Lepas ke bengawan Solo. Terus berjalan ke Sukoharjo, Karanganyar, Sragen,  Bojonegoro, Blora, Tuban, Lamongan, Gresik, Surabaya. Berakhir ke selat Madura.

Wajar sekali raja Mataram berhubungan dengan Pamekasan dan Madura. Bahkan Permaisuri raja Mataram Surakarta kerap berasal dari Madura. Ini fakta historis yang menguntungkan. Jawa Madura memang satu darah keturunan.

Pukul 16 rapat dimulai di ruang pertemuan. Bentuk joglo dengan hiasan kaca klasik. Saka guru atau tiang penyangga bercat coklat. Langit langit tertata rapi warna putih bersih. Jendela bentuk kupu tarung. Kanan kiri tertempel cermin berbentuk bundar telur. Kaca cermin berukuran besar bergantung manis di dinding. Letak antar barang begitu selaras pantas.

Bahasan tentang sastra bahasa seni budaya dalam rangka penyusunan kurikulum. Bahan ajar untuk mahasiswa asing berguna untuk sarana perkuliahan. Minat bangsa manca tinggi untuk belajar bahasa Jawa.

Mahasiswa dari Tiongkok bersemangat belajar budaya Jawa. Dengan kerja sama dengan KBRI Tiongkok telah berjalan sejak bulan Oktober 2020. Hanya saja lewat kuliah online daring. Peserta selalu belajar dengan suka gembira.

Gagasan besar ini diolah di Homestay Mami Ponggok Karanganom Klaten. Gemericik air Umbul Ponggok mengalirkan semangat kerja dan belajar.

Jawa jiwa kang kajawi. Dengan harapan terwujud negeri yang panjang punjung pasir wukir, gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja.

Matur nuwun kagem Bapak dan Ibu Darmanto. Homestay Mami sungguh bikin rasa krasan aman nyaman adhem ayem tentrem.

Kebul bujana andrawina. Makan malam pukul 18.30. Hidangan sayur bobor, daun pepaya, rempeyek, kerupuk, ikan nila. Hidangan yang amat enak. Terbiasa nyuguh tamu yang hilir mudik. Lewat media sosial Pesanggrahan Ponggok mampu memutar kunjungan wisata. 

C. Tlatah Kapujanggan.

Aliran Cokro Pengging Ponggok Polanharjo merupakan kawasan Kapujanggan. Beningnya air melancarkan Beningnya pikiran. Lahir karya sastra bermutu tinggi.

Kyai Yasadipura miyos tahun 1729 merupakan pujangga linuwih. Pengarang besar Jawa yang Waskitha ngerti sakdurunge winarah.

Putra Bupati Padmanagara Pekalongan ini seorang pujangga Kraton yang produktif kreatif dan estetis. Reriptan Kyai Yasadipura mengandung unsur seni edi peni, budaya adi luhung. Edi peni berhubungan dengan estetika keindahan. Adi luhung berhubungan dengan  logika keluhuran.

Reriptan karya Kyai Yasadipura yaitu Serat Dewaruci, Baratayuda, Rama, Menak, Sasana Sunu. Wulangan wejangan wedharan sang pujangga untuk memahami sasmita alam. Yakni jagad gumelar dan jagad gumulung yang selaras serasi dan seimbang.

Raden Ngabehi Ranggawarsita lahir tahun 1801. Nama kecil Raden Bagus Burham. Putra Kyai Pajangswara ini diasuh oleh Kyai Yasadipura atau Kanjeng Raden Tumenggung Sastranagara. Darah Kapujanggan mengalir pada diri Trah Pajang.

Pujangga Ranggawarsita menikah dengan Raden Ajeng Gombak. Beliau putri Adipati Cakraningrat Bupati Kediri. Ketika itu Raden Bagus Burham berguna pada Kyai Kasan Besari di Pondok Pesantren Gebang Tinatar Ponorogo.

Masa Kapujanggan Ranggawarsita saat pemerintahan Sinuwun Paku Buwana IV, V, VI, VII, VIII, IX. Ranggawarsita mengabdi pada enam raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Maka perlu adaptasi dalam bekerja dan berkarya.

Karya Pujangga Ranggawarsita yakni Serat Cemporet, Pustaka Raja, Paramayoga, Kalatidha, Djaka Lodhang. Bacaan itu amat berharga buat mengisi rohani jiwa bangsa.

Terakhir pujangga Ranggawarsita tinggal di Palar Trucuk Klaten. Ponggok Cokro Tulung, Polanharjo dan Pengging dijadikan tempat refleksi. Guna menuangkan buah pikir yang cemerlang.

Ki Nartosabdo dalang kondang tinggal di Semarang. Tapi sejak kecil hidup di Wedhi Klaten. Ki Anom Suroto, Ki Warseno Slenk, Ki Sayoko dalang ubggulan dari Klaten. Ahli karawitan dan  waranggana besasal dari Ponggok Tulung Cokro Polanharjo. Tampil sebagai seniman kaliber dunia.

Wilayah antara Yogyakarta dan Surakarta. Itulah Klaten. Ka lathi an. Kalathian, kalathen, klalthen. Jadilah Klaten. Artinya tutur kata yang selalu berucap secara gancar lancar.

Babad Ponggok Cokro Tulung Polanharjo hadir untuk memberikan pencerahan. Murih padhanging sasmita. Sebagaimana pesan serat Wulangreh. 

Mas Galang Prastowo, Mas Doni Dwi Hartanto, Mas Yayan Rubiyanto dan Mbak Avi Meilawati sedang mendapat wejangan. Dari sang Maha Dwija Prof Dr Suharti M. Pd dan Prof Dr Endang Nurhayati M.Pd. Malam itu suasana benar benar hening. Ilmu kelakone kanthi laku.

Oleh  Purwadi, 
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA
Hp 087864404347

SEJARAH SASTRA JAWA UGM

A. Berdirinya Jurusan Sastra Jawa.

Bibit kawit berdirinya jurusan Sastra Jawa UGM berhubungan dengan sejarah Paheman Radya Pustaka. Gedung Paheman Radya Pustaka lahir pada tanggal 28 Oktober 1890 di Kepatihan Karaton Surakarta Hadiningrat.

Pendiri Paheman Radya Pustaka adalah Kanjeng Raden Adipati Arya Sasradinigrat. Atas perintah Sinuwun Paku Buwana IX yang memerintah Karaton Surakarta Hadiningrat tahun 1861 - 1893. Raja Surakarta ini menyusun Serat Warni Warni dan Serat Kedokteran.

Pada masa pemerintahan Sinuwun Paku Buwana X tanggal 1 Januari 1913 ada kemajuan pesat. Paheman Radya Pustaka menempati gedung baru yang terletak di kebon raja jalan Sri Wedari. Koleksi buku makin lengkap dengan fasilitas yang memadai.

Kajian Sastra Jawa meliputi penelitian, pengajaran, pelatihan, penyalinan dan penerjemahan. Alumni Paheman Radya Pustaka tersebar dalam beragam profesi. Seperti administratur, guru, pamong praja dan pengelola yayasan.

Untuk pegawai yang menguturi bidang keagamaan diberi tempat khusus. Patih Sasradinigrat IV mendirikan Perguruan Mambaul Ulum. Contoh alumni yakni  Kahar Muzakir tokoh pendidikan UII, Mukti Ali tokoh perbandingan agama, Munawir Zadzali tokoh Menteri Agama. Perguruan Mambaul Ulum ini cikal bakal lahirnya IAIN di Indonesia.

Pegawai Paheman Radya Pustaka yang ternama adalah Prof Dr Poebatjaraka. Lahir dengan nama kecil Lesya, pada tanggal 1 Januari 1884. Belajar di Rijtsuniversitet Leiden. Orang tuanya  pengageng Karaton Surakarta Hadiningrat, KRT Poerbadipura dan RAy Semu Prawirancana. Bakat dan bekal budaya sebagai sarana pengabdian. 

Kelancaran studi Sastra Jawa di Paheman Radya Pustaka atas dukungan Prof Dr Notonagoro SH. Menantu Sinuwun Paku Buwana X ini pengageng Bandha Lumaksa. Bertugas sebagai kepala keuangan negeri tahun 1932 - 1938. Menikah dengan GKR Koestimah Notonagoro. Sambil menata pamulangan, putri raja kerap ura ura. 

Lagu witing klapa.

Witing klapa jawata ing ngarcapada. Salugune wong wanita. Dhasar nyata kula sampun njajah praja. Ing Ngayogya Surakarta.

Nadyan akeh wong ayu dhasar priyayi. Nanging datan merak ati. Adhuh Gusti dak rewangi pati geni. Pitung dina pitung wengi.

GKR Koestimah Notonagoro mengatur jadwal pengajaran di Paheman Radya Pustaka. Sejarah, Sastra, gendhing, tari, karawitan, batik, dhahar nyamleng, busana, bale wiswa, bebrayan diajarkan pada siswa. Materi kurikulum disusun oleh tim kasusastran yang dipimpin oleh Ki Padmasusastra.

Umumnya pengajar Paheman Radya Pustaka diambil dari abdi dalem Mandra Budaya dan Purwa Kinanthi. Mereka pernah bertugas sebagai jurnalis Majalah Retna Dumilah yang dirintis oleh Pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita sejak tahun 1843. Para dwija ini ahli sastra bahasa seni budaya Jawa yang mumpuni.

Notonagoro mendapat gelar Mister de Rechten dan Rechthugeschool dari Universitet Leiden Netherland. Antara tahun 1933 - 1929 mengajar di Particuliaere Algeme Middebare. Bersama dengan garwa kinasih, beliau mengembangkan seni edi peni, budaya adi luhung. Sesuai dengan prasapa Sinuwun Paku Buwana X dalam Serat Panitibaya.

Rum kuncaraning bangsa, dumunung ing luhuring budaya.

B. Peresmian Jurusan Sastra Jawa.

Tanggal 1 September 1949 bertemu tokoh tokoh pendidikan. Pimpinan dari berbagai lembaga merancang berdirinya perguruan tinggi.

Ada lima lembaga pendidikan yang hendak bergabung.
1. Paheman Radya Laksana.

2. Perguruan Tinggi Kedokteran Kadipala Surakarta.

3. Sekolah Tinggi Kedokteran Hewan Surakarta.

4. Sekolah Tinggi Farmasi Surakarta.

5. Sekolah Tinggi Pertanian Surakarta.

Bersamaan itu pula ada usulan dari Institut Pasteur Bandung. Dipimpin oleh Prof Dr M Sardjito. Beliau tokoh intelektual dari Kabupaten Magetan Jawa Timur. Masih berhubungan kerabat dekat dengan Gubernur Suryo.

Pertemuan ilmiah ini mendapat dukungan penuh Drs Moh Hatta, Wakil Presiden RI. Koordinator acara dilakukan oleh Prof Ir Rooseno, mewakili Sekolah Tinggi Teknik Bandung. Sedangkan ilmu humaniora diwakili oleh Prof Dr Priyono. Ilmu iku kelakone kanthi laku. 

Tanggal 3 Maret 1949 Prof Dr Priyono berjasa meletakkan dasar dasar pengajaran sastra Jawa UGM. Disertasi Prof Dr Priyono membahas tentang cerita Sri Tanjung. Pria kelahiran 20 Juli 1905 ini punya pemikiran cemerlang. Pernah mendapat penghargaan Perdamaian Stalin Rusia. Presiden Soekarno mengangkat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 1957 - 1966.

Dies Natalis Fakultet Sastra Pedagogik Filsafat dan Kebudayaan diperingati tiap tanggal 3 Maret. Peringatan hari kelahiran fakultas sastra budaya ini diselenggarakan dengan acara temu ilmiah. Para alumni dengan bangga ikut serta. 

Jurusan sastra Jawa untuk pertama kali dipegang oleh Prof Dr Poebatjaraka. Sekretaris jurusan dipegang oleh Prof Dr PJ Zoetmulder. Nama begawan sastra Jawa ini boleh dibilang mendunia, arum kuncara ngejayeng jagad raya. 

Adapun Prof Dr Abdullah Sigit selaku Dekan Fakultet Sastra Pedagogik Filsafat dan Kebudayaan. Jurusan Sastra Jawa UGM berkembang pesat. Boleh disebut alumni handalan yaitu Darusuprapta, Harjana Hardjawijana, RS Subalinata, Sumarti Suprajitna. Dwija agung ini kelak melanjutkan perjuangan luhur. 

Nama Fakultas yang menaungi jurusan sastra Jawa pada tanggal 15 September 1955 mengalami perubahan. Jadilah Fakultas Sastra dan Kebudayaan, disingkat SK. Tahun 1982 cuma disebut Fakultas Sastra. Tahun 1999 diubah menjadi Fakultas Ilmu Budaya. 

Tempat kuliah jurusan sastra Jawa pernah berada di Jl Yudonegaran no 37 Yogyakarta. Dari Paheman Radya Pustaka, Pendhapa Tejakusuma, Gedung Ngabehan.  Akhirnya kuliah sastra Jawa menetap di kampus Bulaksumur sejak tahun 1971.

Prof Dr Poebatjaraka mendapat sebutan Empu Jawa Kuna. Atas jasanya beliau diberi penghargaan Koninklijk Institut voor Taal, Land en. Prestasi bergengsi dan prestisius. 

Dalam lapangan kebegaraan dan pemerintahan jasa Prof Dr Poebatjaraka amat besar. Di bawah kepemimpinan Sultan Hamid II bertugas sebagai Panitia Lambang Negara. Selaku anggota yaitu Prof Dr Poebatjaraka, Ki Hajar Dewantara, Prof Dr Muhammad Yamin SH, Muhammad Natsir. 

Keluarga Prof Dr PoePoebatjaraka cinta seni budaya. Istrinya bernama BRay Roosinah Poeger. Anak yang meneruskan perjuangan yaitu Prof Dr Purnadi Poebatjaraka. Beliau guru besar Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya Palembang. Pendekatan studi hukum dianjurkan untuk berdasarkan aspek nilai budaya lokal. 

Dukungan dari Prof Dr Notonagoro untuk pengembangan sastra Jawa begitu tinggi. Pada tahun 1952 Notonagoro menjabat sebagai Dekan Fakultas Hukum UGM. Pada kesempatan ini Prof Dr Notonagoro bertindak sebagai promotor bagi Presiden Soekarno dan Ki Hajar Dewantara. Pejuang hebat inu mendapat gelar Doktor Honiris Causa. 

Masa pemerintahan Presiden Soeharto, guru besar UGM ini mendapat tugas menyusun program pedoman penghayatan dan pengamalan Pancasila. Populer disebut P4. Dalam kacamata budaya disebut dengan Eka Prasetya Panca Karsa. 

Anjuran Prof Dr Notonagoro agar sastra Jawa berkembang terus. Maka dilakukan usaha penerjemahan Serat Wulangreh, Centhini, Wedhatama, Pustaka Raja Purwa. Nilai filsafat dengan studi sastra Jawa memang berhubungan erat. Ibarat suruh, lumah lan kurepe. Yen disawang seje rupane. Yen digigit tunggal rasane. 

C. Para Dwija Sastra Jawa. 

Ibu Dra Sumarti Suprajitna sungguh berjiwa luhur, anteng jatmika ing budi. Memberi wejangan ngelmu Kejawen sebagai dwija mursid. Kerap ngudal piwulang pada Paguyuban Ngesti Tunggal. Mahasiswa senang berkonsultasi untuk ngudhari ruwet rentenging urip. 

Bapak Prof Dr Darusuprapta menulis disertasi Babad Blambangan. Sejarah kadipaten Bang Wetan diulas jelas tegas tuntas. Berguna bagi masyarakat Banyuwangi. 

Serat Wulangreh dibahas oleh Pak Darusuprapta pada tahun 1982. Buku ini murih padhanging sasmita. Karya Sinuwun Paku Buwana IV berisi tentang wulangan wejangan wedharan. Agar manusia menjauhi sikap adigang adigung adiguna. 

Sekar gambuh. 

Tutur bener puniku, sayektine apantes tiniru,
 nadyan metu saking wong sudra papeki, lamun becik nggonne muruk,
iku pantes sira anggo. 

Dwija minulya asma Bapak Drs Harjana Hardjawijana SU. Beliau asal Dungus Gumarang Madiun. Menulis tesis yang membahas kitab Cemporet. Karya Pujangga Raden Ngabehi Ranggawarsita ini berisi tentang kisah historis. 

Dhandhanggula 

Kuneng lingnya Rama Dayapati, angandika Sri Rama Wijaya, 
he bebakal sira kiye, gampang kalawan ewuh,
 sayekti wus ana kang kardi, 
yen wania ing gampang,
 wania ing ewuh, sabarang nora tumeka,
 gampang lawan ewuh yen abtepen dadi siji, 
ing purwa nora ana. 

Wejangan ini dilanjutkan oleh Bapak Drs RS Subalinata. Beliau ahli menulis kolom di media massa. Misalnya di Djaka Lodhang, Penyebar Semangat, Jayabaya, Berita Nasional dan Kedaulatan Rakyat. Pada tahun 1966 Pak Subali menyusun skripsi dengan judul Serat Wiwaha Jarwa yasan Sinuwun Paku Buwana III. Tesis ini menjelaskan pemikiran Begawan Ciptawening. 

Dosen Penyebar bernama Drs Ahmad Nugraha SU. Menulis tesis dengan judul Kresna Duta karya Pujangga Kyai Yasadipura. Bapak Drs Anung Tejo Wirawan MA mengulas karya Raden Ngabehi Ranggawarsita. 

Agak mengesankan yaitu materi kuliah Rama Dr I Kunthara Wiryamartana. Beliau asal Klaten yang menulis Kakawin Arjuna Wiwaha pada tahun 1987. Disertasi yang membahas karya Empu Kanwa, jaman Prabu Airlangga raja Kahuripan. 

Pada tahun 1990 Kitab Kakawin Arjuna Wiwaha diterbitkan oleh Duta Wacana Press. Ketika mengajar sastra Jawa Kuna, Rama Kunthara penuh dengan penghayatan. 

Pucung. 

Ilmu iku kelakone kanthi laku, 
Lekase lawan kas, tegese kas nyantosani, Setya budya pangekesing dur angkara. 

Basa ngelmu mupakate lan panemu,
pasahe lan tapa,
yen satriya tanah Jawi, 
kuna kuna kang ginelung tri prakara. 

Ulasan sejarah Sastra Jawa UGM bercabang beranting. Ing pangajab sami pana pranaweng kapti. Tahu hakikat sangkan paraning dumadi.

Oleh Purwadi, Wastra Gama, Warga Alumni Sastra Jawa Gajah Mada 1990. 
hp 087864404347.

BABAD TANAH PASUNDAN

A. Kerajaan Pajajaran. 

Babad Tanah Pasundan memang agung. Pajajaran adalah payung besar bagi tumbuh kembangnya budaya Pasundan. Harkat martabat warga Sunda berderajat terhormat. 

Babad Tanah Pasundan perlu dilacak. Termasuk asal usul nama kota Bandung. Nama Bandung berasal dari dua kata, Bantuan dan Mendung. Bantuan terkait dengan pertolongan dari Tuhan. Mendung merupakan suasana yang sedang gelap gulita. Tidak selamanya langit mendung, berarti suasana duka suatu saat pasti berganti.

Ada harapan untuk menanti keadaan yang lebih gemilang. Bandung berarti keyakinan masyarakat terhadap bantuan Tuhan untuk mendapati cuaca mendung. Inilah butir butir kearifan lokal. 

Sesungguhnya di balik kesempitan pasti beserta dengan kesempatan.
 Anugerah yang berlimpah ruah ini betul betul dihayati oleh Kanjeng Sinuwun Prabu Siliwangi pada tanggal 9 Muharam atau 20 April 1333. Nasihat luhur ini diungkapkan oleh Prabu Siliwangi ketika dinobatkan sebagai raja agung di kerajaan Pajajaran. 

Pidato pengukuhan sebagai pimpinan tertinggi kraton Siliwangi sungguh menggetarkan hati. Segenap hadirin tak kuasa menahan air mata. Raja Pajajaran ibarat Batara Wisnu yang menjelma di madyapada untuk menaburkan kesejahteraan pada alam.

Berkenan hadir dalam upacara penobatan Prabu Siliwangi, yaitu para raja di kawasan Nusantara, Asia Tengah, Asia Selatan dan Asia Barat. Sultan Al Malik Azh Zhahir mewakili kerajaan Samudra Pasai. Ratu Putri Tribhuana Tungga Dewi Jaya Wisnumurti mewakili kerajaan Majapahit. Panji Asmarabangun mewakili kerajaan Daha. Sekartaji Galuh Candrakirana mewakili kerajaan Jenggala. Prabu Indrajaya Balaputradewa mewakili kerajaan Sriwijaya. Prabu Maharaja Bonisora mewakili kerajaan Galuh. Komala Pulu mewakili kerajaan Ternate. 

Sultan kolano Syahjati mewakili kerajaan Tidore. Maharaja Indera Mulia mewakili kerajaan Kutai Martapura. Srimat Sri Suruaso Udaya Adityawarman mewakili kerajaan Pagaruyung.

Selain raja sahabat Nusantara, hadir pula Sultan Alaeddin Pasha. Kehadirannya mewakili Kasultanan Utsmaniyah Turki yang memerintah sejak tahun 1320. Raja diraja yang berpusat di Konstatinopel ini memang termashur di se-luruh dunia. Kehadiran Sultan Alaeddin Pasha membanggakan warga Pasundan. Tentu pengawalan super ketat. Sejak tiba di pelabuhan Tanjung Priok, raja Turki mendapat pengawalan khusus dari Bregada Prajurit Langen Astra, Prajurit Surageni, Prajurit Jayeng Astra dan Prajurit Jagasura.

Upacara penobatan Prabu Siliwangi berlangsung megah, mewah, meriah, indah. Lantas dilakukan kirab keliling kota Bandung. 

Sepanjang jalan berkibar bendera gula klapa, rontek, umbul-umbul. Rakyat berduyun duyun dari segala penjuru. Penjual peuyeum laris manis. Para raja turut kirab dengan naik kereta Paksi Kencana, kereta Paksi Kumala, kereta Paksi Retna, kereta Jati Nugraha, kereta Jati Wiwaha. Semua kereta ditarik delapan kuda pilihan dari Sumbawa.

Gagah benar penampilan Prabu Siliwangi. Beliau menggunakan busana kebesaran tedak loji dengan selempang tanda-tanda kebesaran. Yakni berupa bintang bintang kerajaan, nganggar pusaka warangka gayaman.

 Raja Pajajaran berbusana sikepan ageng, kuluk panunggul, atela hitam, dasi model kupu-kupu, sikepan tritis bersulam benang emas, nyamping parang curiga latar putih, jarik ngumbar kunca, kampuh blenggen rumbai dua. Para pegawai istana menggunakan busana makutha, matak, kastur, destar, celana, pasikon, kepuh, dan ukup.

Putra-putri Pajajaran menggunakan aneka ragam perhiasan. Ada kalung, subang, tusuk konde, gelang, bros, cincin, semyok, sengkang, susuk.

 Busana keputren meliputi: sabuk-wala, pinjung kencong, ukel sanggul, kampuhan gendalagiren, dodotan, klembrehan, sengkelat, janur slepe, jungkat, kukar, limaran, cinde, cunduk jungkat, kebaya, rasukan janggan, jarik wiron, gendala giri, peserta kirab berbusana serba gemerlap.

Dua tahun kemudian yaitu tanggal 20 April 1335 istana Pajajaran dibangun lebih cantik. Prabu Siliwangi mendatangkan kayu jati dari Cepu, semen dari Gresik, marmer dari Tulungagung. Juru ukir terpilih didatangkan dari Jepara. 

Tukang pahat batu dari Muntilan, ahli relief dari Prambanan. Pakar bangunan terpilih diundang ke Priangan Bandung. Hari ulang tahun kerajaan Pajajaran, ini dilakukan secara istimewa.

Bangunan karaton Pajajaran terdiri dari gladag, pamurakan, alun-alun, ringin kurung, pagelaran, sasana sumewa, sitinggil, kori mangu, kori brajanala, kori kamandungan, sri manganti, dalem ageng, kedaton, prabasuyasa, bala angun-angun. 

Tampak indah megah yaitu bangunan untarasana, paningrat, smarakata, bale marcukunda, gondorasan, bangsal pengrawit, singgasana, manguntur tangkil, talangpati, banoncinawi, keputren, tratak rambat, kepatihan, sasana handrawina, langen boga, sasana mulya, sasana krida dan bangsal manis.

B. Peninggalan Prabu Siliwangi. 

Bandung sebagai lautan peradaban di Pasundan nyata dipimpin oleh Prabu Siliwangi. Maka masyarakat Bandung sungguh berbahagia mendapat warisan mulia dari Prabu Siliwangi. Kerajaan Pajajaran berkembang menjadi negeri aman damai, makmur sejahtera, termashur wibawa, murah sandang pangan papan.

 Prabu Siliwangi memerintah dengan arif bijaksana. Keadilan dan hukum dijunjung tinggi. Birokrasi dibina demi mengutamakan pelayanan.

Pada ulang tahun yang kelima, yakni pada tanggal 20 April 1338 Kerajaan Pajajaran memberi hadiah seni Jajar Agung kepada para budayawan. Prestasi para seniman dan budayawan dihargai oleh Prabu Siliwangi. Mereka diundang ke istana. 

Penghargaan seni Jajar Agung tentu mendorong para seniman budayawan untuk terus berkarya. Penetapan seniman berprestasi melalui seleksi yang ketat. Prabu Siliwangi menghendaki unsur obyektivitas dalam seleksi. Tidak ada rekayasa. Itulah keteladanan Prabu Siliwangi yang mulia dan agung.

Bandung adalah bantuan untuk mengatasi suasana mendung. Prinsip ini diterapkan semasa kepemimpinan Prabu Siliwangi. Kerajaan Pajajaran mampu mewujudkan rasa bangga di kalangan warga Pasundan.

 Rakyat Pajajaran yang tinggal di pegunungan, pedesaan dan perkotaan amat memuja keluhuran budi Prabu Siliwangi. Terlebih-lebih bagi warga jelata yang serba kekurangan, senantiasa mendapat bantuan dan pertolongan dari raja Pajajaran. Prabu Siliwangi tidak pernah pilih kasih.

Raja Pajajaran memang sakti mandraguna. Beliau per-nah bertapa di puncak Gunung Tangkuban Perahu. Perlengkapan semedi dibawa oleh pegawai istana yang tergabung dalam lembaga sasana padupan. Mereka membawa dupa, kemenyan, ratus, minyak wangi srimpi, kembang telon, kembang piton.

 Prabu Siliwangi duduk bersila memuja kepada Tuhan. Meditasi Prabu Siliwangi juga dilakukan di puncak gunung Malabar setiap bulan Sura. Raja Siliwangi ini juga tapa kidang, tapa kalong, tapa api dan tapa air.

Ibukota Pajajaran pindah ke Bogor pada tanggal 3 Juni 1482. Raja Pajajaran dipegang oleh Sri Baduga Maharaja. Sedangkan kota Priangan Bandung dikelola oleh Dipati Ukur. Wilayahnya lantas disebut dengan Kadipaten Tatar Ukur. 

Kerajaan Pajajaran tetap membawahi kadipaten Tatar Ukur. Para penguasa baru juga gemar semedi dengan tapa ngeli di sungai Citarum.

Dalam perjalanannya kerajaan Pajajaran berganti nama menjadi kerajaan Sumedang Larang pada tahun 1580. Rajanya bernama Kanjeng Sinuwun Prabu Geusan Ulun.

 Pemimpin kerajaan Sumedang Larang ini bersahabat erat dengan Panembahan Senopati raja Mataram yang memiliki istri Kanjeng Ratu Kidul. Penguasa Laut Selatan ini membantu kerajaan Sumedang Larang.

Hubungan kerajaan Mataram dengan kerajaan Sumedang Larang berjalan sangat harmonis. Pada tahun 1620 Sul-tan Agung berkunjung ke Sumedang Larang. Kedatangan raja Mataram disambut hangat oleh Prabu Suriadiwangsa, pimpinan Sumedang Larang. 

Sultan Agung memberi gelar Raden Suriadiwangsa dengan sebutan Pangeran Rangga Kusuma-dinata. Pada tahun 1624 Pangeran Rangga Kusumadinata berkunjung ke Sampang Madura.

Pada tahun 1632 Priangan Bandung dipimpin oleh Pangeran Dipati Rangga Gede.
 Pelantikan Bupati Bandung pada tanggal 20 April 1632, melanjutkan tradisi luhur yang diwariskan oleh Prabu Siliwangi. 

Hari bersejarah ini juga bersamaan dengan ulang tahun kabupaten Bandung, kabupaten Parakan Muncang dan kabupaten Sukapura.

Kabupaten Bandung pada tahun 1641 dipimpin oleh Tumenggung Wira Angu Angun. Beliau menjabat Bupati Bandung tahun 1641 – 1681.

 Penggantinya bernama Tumenggung Ardi Kusumah tahun 1681 – 1704. Beliau bersahabat erat dengan Sinuwun Amangkurat Amral yang menjadi raja Mataram Kartasura. Raden Ardinata menjabat Bupati Ban-dung tahun 1704 – 1747. Lantas dilanjutkan oleh Adipati Ha-tapraja tahun 1707 – 1763. Pangeran Anggadireja menjabat Bupati tahun 1763 – 1794.

 Selanjutnya para penguasa Bandung menjalin kekerabatan dengan kerajaan Mataram. Bandung bertambah jaya, makmur dan tersohor. Warisan budaya Sunda perlu dilestarikan. 

C. Pelestari Warisan Budaya Sunda. 

Para Bupati Bandung mengabdi demi kemuliaan warga Pasundan. Mereka adalah pewaris budaya besar. 

1. Tumenggung Wiraangunangun 1632 – 1681

2. Tumenggung Ardikusumah 1681 – 1704

3. Tumenggung Anggadireja I 1704 – 1747

4. Tumenggung Anggadireja II 1747 – 17630

5. R. Wiranatakusumah I 1769 – 1794

6. RA. Wiranatakusumah II 1794 – 1829

7. R. Wiranatakusumah III 1829 – 1846

8. R. Wiranata kusumah IV 1846 – 1874

9. R.A Kusumahdilaga 1874 – 1893

10. R.A.A Martanegara 1893 – 1918

11. R.H.A.A Wiranatakusumah V 1920 – 1931

12. R.T Hasan Sumadipraja 1931 – 1935

13. R.H.A.A Wiranatakusumah V 1935 – 1945

14. R.T.E Suriaputra 1945 – 1947

15. R.T.M Wiranatakusumah VI 1947 – 1956

16. R. Apandi Wiradiputra 1956 – 1957

17. R. Godjali Gandawidura 1957 – 1960

18. R. Memed Ardiwilagaa B.A. 1960 – 1967

19. Masturi 1967 – 1969

20. R.H Lily Sumantri 1969 – 1975

21. Sani Lupias Abdurachman 1980 – 1985

22. Cherman Effendi 1985 – 1990

23. H.U. Hatta Djatipermanaa, S.Ip 1990 – 2000

24. H. Obar Sobarna S.Ip 2000 – 2010

25. H. Dadang M. Nasser 2010 – 2015

26. Perry Suparman (Penjabat) 2015 – 2016

27. H. Dadang M. Nasser 2016 – 2021

Perjuangan para Bupati Bandung penuh dengan nilai keutamaan, kebajikan dan keteladanan. Mereka adalah pemimpin tangguh, utuh, sepuh, berpengaruh. Gagasan Prabu Siliwangi menjadi inspirasi mereka untuk menjalankan pengabdian. Kerajaan Pajajaran memberi bukti nyata atas keberhasilan masa silam.

Keunggulan Bupati Ardi Kusumah terletak pada kemampuan membuat tata kota.
 Pada tahun 1683 diundang Sinuwun Amangkurat Amral untuk menata pertamanan di Kartasura. 

Bupati Bandung ini punya selera estetika yang sangat tinggi. Perpaduan pepohonan dan bentuk bangunan terlihat asri berkat sentuhan tangan Tumenggung Ardi Kusumah.

Kanjeng Ratu Mas Balitar pada tahun 1716 menye-lenggarakan pelatihan menyusun tareh Nabi. Bupati Bandung Tumenggung Angga Direja I mengirim siswa-siswi untuk belajar sastra budaya di Kartasura.

 Program ini berlanjut pada tahun 1805 ketika Raden Ajeng Sukaptinah mengadakan kursus serat Wulangreh. Sedang para ibu-ibu dari Bandung diundang ke Laweyan untuk belajar batik motif sidomukti, parang dan truntum.

Raden Wirana Kusumah IV pada tahun 1870 diundang ke Madiun. Beliau turut mendukung pembangunan rel kereta api di seluruh tanah Jawa. Para kepala daerah berkumpul untuk membahas sistem transportasi massal yang mudah dan murah. 

Adipati Martanagara pada tahun 1912 diberi kesempatan untuk mengikuti pelatihan manajemen perkebunan di daerah Kembang Semarang dan Ampel Boyolali. Rombongan Bandung mendapat pengetahuan tentang budidaya kopi.

Bupati Bandung, Raden Tumenggung Hasan Sumadipraja pada tahun 1932 mengikuti pelatihan manajemen industri logam di Bekonang. Kegiatan ini atas undangan Sinuwun Paku Buwana X, raja Karaton Surakarta Hadiningrat. Kegiatan ini dalam rangka memperluas lapangan kerja.

 Para pemuda Bandung yang punya bakat dalam bidang pembuatan musik gamelan mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri. Kelak mereka dapat hidup mandiri dengan membuka lapangan kerja.

Berbahagialah warga kabupaten Bandung yang memiliki sejarah gemilang. Dengan belajar kehidupan masa lampau, masyarakat Bandung siap menata masa depan yang lebih cemerlang. 

Cita cita mulia ini diperjuangkan terus, sehingga kemuliaan menjadi kenyataan. Masa depan bagi masyarakat Bandung selalu bersinar terang benderang.

D. Babad Sangkuriang

Carios para sepuh baheula, dina leureung Banjar aya sahiji bagong putih, gawena ngan tatapa bae sarta tatapana geus leuwih puluh -puluh tahun. Ari anu ditapaanku manehna, hayang boga anak awewe sarta bangsa manusia. Tapi da tunggal mahlukna sarta damelna, sanajan bagong ku kersa Maha Suci nya dipasihan bae.

Dina hiji waktu bagong putih nyaba ka hiji tegalan deukeut kana wahangan Citanduy sarta niat buka ku hayang cai. Barang datang ka dinya, manggih sahiji batok balokan, hartina dewegan kalapa urut nu meulah sarta loba pisan. Ari eta balok-balokan asalna urut nu moro uncal ka dinya. Ari eta hiji balokan urut tuang Kangjeng Prabu Ratu Galuh serta tuluy bae Kangjeng Ratu Galuh kahampangan, caina ngempelang dina eta balokan.

 Ari geus marulih kapanggih ku bagong putih. Tina hayang nginum bagong putih leguk bae diinum. Ari geus nginum langkung- langkung nyaliarana kana awak bagong putih, kawas nu ngandeg reuneuh bae. Eta tegalan ayeuna geus jadi lembur sarta disebutna kampung balokang ku anu ayeuna.

Ayeuna bagong putih mulang bae ti Balokang sarta geus datang harita ka imahna. Ari geus lila-lila reuneuhna beuki gede bae. Ana gubrag orokna jelema sarta awewe geulis. Langkung -langkung bagong putih atoheunana, anakna diciuman, digalentor bari disusuan.

Cek hiji carios tuluy aya anu ngajenenganan, disebutna Nyai Dayang Sumbi atawa Nyai Rarasati. Ari geus gede dikukutna Nyai Dayang Sumbi ku bagong putih geus aya sapuluh taunna, pok nanyakeun bapa, “Ibu ari bapa kuring saha? Atawa jalma cara kuring atawa bagong saperti ibu?”

 “Euh, nyai anu geulis anak ibu, si nyai hanteu boga bapa. Mun enya mah, si nyai boga bapa meureun aya di dieu.” Lajeng walon Nyai Dayang Sumbi, “Euh, mustahil ibu, sakabeh makhluk ge pada boga bapa, bangsal jalma mah a’awa sato hewan, anging bangsa kakaian anu henteu aya bapana.”

Pasundan mengalami masa kejayaan pada jaman Kerajaan Pajajaran. Rakyat hidup makmur sejahtera bahagia. Murah sandang pangan papan. Prabu Siliwangi tampil sebagai pemimpin besar yang membawa suasana ayem ayom.

Oleh: Dr. Purwadi, M.Hum
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara LOKANTARA 
Hp: 0878 6440 4347

Rabu, 10 Maret 2021

Sejarah Kerajaan Galuh

A. Makna Kerajaan Galuh. 

Keagungan wilayah Ciamis dalam peradaban historis berlangsung amat mengagumkan. 
Masyarakat Ciamis mempunyai kebanggaan sejarah besar. 

Kerajaan Galuh yang besar, agung, kaya, makmur, berwibawa, termashur berada di Ciamis. Kata Galuh berasal dari garap suluh. Garap dapat diartikan sebagai pekerjaan, pengabdian, perjuangan, persembahan, pemberian. Suluh dapat diartikan sebagai penerangan, sinar, cahaya, lampu, dian, pelita, api, cerah, cemerlang, gemilang, harapan.

 Dengan demikian kerajaan Galuh merupakan negeri yang selalu berjuang dengan sungguh sungguh, demi sekalian rakyat, agar hidupnya selalu makmur gemilang.

Kerajaan Galuh berdiri pada tanggal 12 Juli 1482. Rajanya bernama Kanjeng Sinuwun Prabu Niskala Wastu Kancana. Beliau seorang raja yang bijak bestari, berwibawa, berkharisma, berbudi luhur, berjiwa agung, berwawasan luas, berpandangan jauh ke depan. 

Rakyat yang tinggal di pedesaan, pegunungan, perkotaan, mengenal raja Galuh sebagai pengayom, pengayem yang ramah tamah, gagah gumregah, pemurah dermawan, hormat kasih, cerdas, cermat, teliti, tegas, tangkas, trampil dan pintar.

Pada tanggal 14 Juni 1485 Prabu Niskala Wastu Kancana mendapat kunjungan kenegaraan dari Raja Demak Bintara. Beliau bergelar Kanjeng Sultan Syah Alam Akbar Fatah Jimbun Sirullah I. Turut menyertai rombongan kerajaan Demak yaitu Sunan Gunung Jati, Sunan Kalijaga, Sunan Murya, Sunan Drajad, Sunan Giri dan Sunan Bonang. Dewan Wali Sanga terwakili enam orang. 

Prabu Niskala Wastu Kancana didampingi segenap pembesar kerajaan Galuh, yakni Pangeran Himbanagara, Pangeran Linggawisesa, Pangeran Bunisora, Pangeran Watugaluh.

Hubungan diplomasi antara kerajaan Galuh dengan Kasultanan Demak Bintara berlangsung harmonis dan saling menguntungkan.

 Negari Galuh saat itu terkenal sebagai kerajaan yang subur makmur dalam bidang agrobis. Budidaya minyak kelapa berkualitas ekspor. Juga masyarakat Ciamis pandai membuat gula kelapa yang bermutu tinggi. Warga Galuh Ciamis pintas membuat hiasan janur. Pemuda pemudi Demak Bintara lantas dikirim belajar ke Ciamis.

Perjuangan Prabu Niskala Wastu Kancana diteruskan oleh Prabu Susuk Tunggal mulai tahun 1516. Beliau pernah berguru kepada Sunan Kalijaga di Kadilangu selama menuntut ilmu pengetahuan. Beliau bersahabat erat dengan Sunan Prawata, Jaka Tingkir, Ratu Kalinyamat, Pangeran Hadirin.

 Pembesar Demak Bintara ini menjadi tokoh penting dalam merintis kerja sama dengan warga wilayah Pasundan.

Penobatan Jaka Tingkir sebagai raja Pajang dihadiri oleh Prabu Susuk Tunggal. Upacara penobatan Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir pada tahun 1546. Rombongan kerajaan Galuh belajar tata cara jumenengan. Iringan musik gamelan tertata sangat rinci. Raja berjalan disertai dengan iringan gending Monggang. Tamu-tamu berdatangan diiringi gending Kebo Giro.

 Acara makan siang berada di gedung sasana handrawina, lantas ditutup dengan gending Udan Mas. Kirab agung disertai dengan iringan gending gamelan Carabalen. Pengalaman ini dikembangkan di kerajaan Galuh.

Kerajaan Galuh berhubungan dengan kerajaan Mataram tahun 1595. Pimpinan Galuh Ciamis bernama Prabu Tunggal Buana. Permaisuri Panembahan Senopati, Ratu Waskitha Jawi memberi sumbangan kepada kerajaan Galuh Ciamis berupa kayu jati. 

Pendapatan istana Galuh bertambah megah. Bagian depan berbentuk joglo, dengan ragam joglo pengrawit, joglo jubungan, joglo witana, joglo cempurung, joglo kepuhan, joglo ceblokan, joglo tawanboni.

Adipati Panaekan memimpin Galuh Ciamis pada tahun 1618. Istrinya bernama Ratu Pandan Arum, adik Sultan Agung raja Mataram.

 Tiap tahun Adipati Panaekan dan Ratu Pandan Arum datang ke negeri Mataram. Beliau berdua mengajak siswa siswi Galuh untuk belajar kitab Sastra Gending. Karya Sultan Agung ini berguna untuk membentuk pendidikan karakter. Kebijakan Sultan Agung dalam bidang kalender juga diterapkan di Kerajaan Galuh. Kalender Sultan Agung merupakan bentuk akulturasi budaya yang menyelaraskan tahun Masehi dan Komariah.

Pengembangan dan pengelolaan wilayah Galuh Ciamis berlangsung lancar. Pada tahun 1620 Sultan Agung datang untuk menyalurkan pembukaan lomba baca tulis aksara Sunda. 

Peserta terdiri dari pemuda-pemuda yang gemar ilmu humaniora. Penyalinan kitab-kitab kuna berlangsung setahun lamanya. Pakar-pakar kesusteraan Mataram didatangkan untuk melakukan pelatihan penerjemahan kitab Klasik.

Kitab Nawaruci, Suluk Bonang, Serat Nitisruti, Darmasunya diterjemahkan ke dalam bahasa Sunda. Adipati Panaekan memberi bantuan besar. 

Biaya diambil dari anggaran kerajaan Galuh. Peserta pelatihan yang lulus dengan predikat memuaskan diangkat menjadi guru kerajaan Galuh. Gaji guru dan tunjangan profesi tenaga pendidikan cukup layak. Penataran guru dilaksanakan dengan teratur. 

Karier keguruan dibuat sangat rapi dan berjenjang. Cukup mengagumkan. Anyaman peradaban telah diantar pada tingkat yang bermartabat daan bermanfaat. 

B. Kerajaan Galuh Menganyam Peradaban. 

Sesungguhnya kerajaan Galuh Ciamis merupakan kelanjutan dari Kerajaan Pajajaran. Penguasa kerajaan Galuh memang keturunan Prabu Siliwangi. 

Raja besar ini mewarisi nilai keteladanan, kejujuran, kebajikan, kepahlawanan, keagungan, keluhuran. Faktor inilah yang menyebabkan keturunan Prabu Siliwangi mendapat simpati dan empati dari sekalian rakyat.

Jiwa kepemimpinan Prabu Siliwangi mengalir pada diri Raden Panji Aria Jayanagara. Pada tahun 1652 sebagai pimpinan Ciamis beliau mengirim pemuda untuk belajar seluk beluk ilmu maritim di Tegal. 

Proyek pendidikan kelautan ini didukung penuh oleh Sinuwun Amangkurat Agung, raja Mataram yang memerintah tahun 1645 – 1677. Pelopor maritim Asia Tenggara ini sangat berpengaruh di wilayah Galuh Ciamis. Dari proses pembelajaran ini menjadi bekal warga Ciamis untuk mengelola pantai Pangandaran.

Kepemimpinan Adipati Angganaya menonjol dalam bidang arsitektur. Pada tahun 1684 pernah dijadikan konsultan oleh Sinuwun Amangkurat Amral saat membangun kota Surakarta. 

Pada masa kepemimpinan Adipati Angganaya ini taman kota Galuh Ciamis tampil asri. Beliau pernah melakukan studi banding ke Samudra Pasai. Di sana beliau belajar kitab Bustanassalatin, karya Nurudin Arraniri. Ilmu pengetahuan di Galuh Ciamis semakin maju berkembang.

Ahli sastra Islam dari Mataram Kartasura pernah diundang ke Galuh Ciamis pada tahun 1714. Beliau seorang putri yang hebat. Kebutuhan menjadi permaisuri Sinuwun Paku Buwana I. Namanya Kanjeng Ratu Mas Balitar. Kedatangan beliau ke Galuh Ciamis atas undangan Adipati Kusumadinata I. Ratu Mas Balitar mengajari pembacaan kitab Iskandar Zulkarnain, Serat Menak dan Serat Ambiya. Kitab ini kemudian disalin dalam aksara dan bahasa Sunda.

Pelatihan manajemen pelabuhan dilakukan pada tahun 1803. Galuh Ciamis dipimpin oleh Adipati Pangeran Natakusuma. Atas undangan Raden Sukaptinah, permaisuri Sinuwun Paku Buwana IV. Warga daerah Cidolog Banjaranyar, Banjarsari, Baregbeg, Cihaurbekti, Cijeungjing belajar manajemen di Pelabuhan Tanjung Priok. Warga daerah Cikoneng, Cimaragas, Cipaku, Cisaga belajar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Warga dari daerah Jatinagara, Kawali, Lakbok, Lumbung, Pamarican belajar di Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Warga dari daerah Panjalu, Panawangan, Panumbangan, Purwadadi, Rajadesa belajar di Pelabuhan Tanjung Kodok Lamongan. 

Warga dari daerah Rancah, Sukadana, Sukamantri, Tambaksari, Banjar, Sendangkasih belajar di Pelabuhan Lasem Rembang.

Pengiriman siswa besar-besaran terjadi pada tahun 1842. Adipati Kusumadiningrat mengirim pemuda ke perguruan Pengging. Mereka belajar tentang sejarah, filsafat, bahasa, sastra. 

Pujangga Raden Ranggawarsita memberi pelatihan kepada warga Galuh Ciamis. Penyalinan, penulisan, penyusunan, penerjemahan kitab-kitab klasik ke dalam bahasa Sunda. Proses budaya ini mendapat dukungan penuh dari raja Surakarta, Kanjeng Sinuwun Paku Buwana VII yang memerintah tahun 1830 – 1858.

Pada tahun 1894 mulai beroperasi stasiun kereta api di Ciamis. Adipati Pangeran Kusumabrata sangat berjasa dalam menyediakan lahanuntuk jalan kereta api. Peresmian rel kereta api dan stasiun Ciamis dihadiri oleh Sinuwun Paku Buwana X, raja kraton Surakarta Hadiningrat. Hubungan diplomasi Ciamis dengan daerah lain memang berjalan sangat harmonis.

Pemimpin harus memperhatikan kesejahteraan warganya. Pada tahun 1916 Bupati Ciamis Aria Sastrawinata mengirimkan pemuda untuk mengikuti pelatihan manajemen perkebunandi daerah Kembang Semarang.

 Dari pelatihan manajemen kebun kopi ini lantas dilakukan budidaya kopi di lingkungan gunung Sawal. Rakyat bisa hidup mandiri. Roda ekonomi berputar lancar. Lapangan kerja terbuka semakin luas.

Bupati Aria Sastrawinata kerap mengirim praktek kerja di pabrik gula Gondang Winangun Klaten. Para siswa dikirim dengan naik kereta api. Pemuda Ciamis diantar untuk magang kerja di pabrik Gula Rejoagung Madiun.

 Pada tahun 1921 pemuda Ciamis dikirim untuk magang kerja di pabrik gula Mrican Kediri. Semua itu dilakukan agar masyarakat Ciamis mendapat kemakmuran yang berlimpah ruah.

Irigasi menjadi perhatian Bupati Ciamis Aria Sunarya. Studi banding tentang manajemen pengairan dilakukan pada tahun 1936 di Cakra dan Kali Larangan. Sistem pengairan ini perlu diterapkan untuk mengatur sungai Citanduy. Pertanian, perkebunan dan peternakan memerlukan sistem irigasi yang teratur. Bupati Aria Sunarya menyadari arti penting ketahanan pangan.

 Petani harus dibantu dalam bidang pengairan. Tanaman yang subur demi mewujudkan masyarakat yang makmur. Praktek keutamaan ini selaras dengan nilai luhur kerajaan Galuh yang diwariskan secara turun tumurun. 

C. Teladan Utama Kerajaan Galuh. 

Generasi muda perlu tahu teladan utama yang telah diwariskan oleh Kerajaan Galuh. Untung sekali para pimpinan sekarang sadar nilai historis.  Para Bupati Ciamis yang berkaca pada keteladanan masa silam sebagai bekal pengabdian. 

1. Kanjeng Adipati Panaekan 1618 – 1625

2. Dipati Imbanagara 1625 – 1636

3. Panji Aria Jayanegara 1636 – 1678

4. Anggapraja 1678 – 1679

5. Angganaya 1679 – 1693

6. Sutadinata 1693 – 1706

7. Kusumadinata I 1706 – 1727

8. Kusumadinata II 1727 – 1732

9. Jayabaya Patih Imbanagara 1732 – 1751

10. Kusumadinata III Mas Garuda 1751 – 1801

11. Adipati Natadikusuma 1801 – 1806

12. Surapraja 1806 – 1811

13. R.T. Jayengpati Kartanagara 1811

14. Tumenggung Natanagara 1811 – 1814

15. Pangeran Sutajaya 1814 – 1815

16. R.T. Wiradikusumah 1815 – 1819

17. R.A. Adikoesoemah 1819 – 1939

18. Aria Koesoemadiningrat 1839 – 1886

19. Aria Kusumasubrata 1886 – 1914

20. R. T. Aria Sastrawinata 1914 – 1935

21. R. T. Aria Sunarya 1935 – 1944

22. R. Mas Ardiwiangun 1944 – 1946

23. R. Vater Dendakusumah 1946 – 1948

24. Gumelar Wiranagara 1948 – 1950

25. Prawiranata 1950 

26. Redi Martadinata 1950 – 1952

27. Abdul Rifa’i 1952

28. Mas Rais Sastradipura 1952 – 1954

29. Yusuf Suriadipura 1954 – 1958

30. Gahara Wijayasurya 1958 – 1960

31. Udia Kartapruwita 1960 – 1966

32. Kol. Abubakar 1966 – 1973

33. Kol. Hudli Bambang Aruman 1973 – 1978

34. Drs. Soeyoed 1978 – 1983

35. Kol. Taufik Hidayat 1983 – 1988

36. Kol. Dedem Ruchlia 1993 – 1998

37. Drs. Maman Suparman Rachman 1998 – 1999

38. Oma Sasmita, S.H 1999 – 2004

39. Kolonel H. Engkon Komara 2004 – 2014

40. Drs Iing Syam Arifin, M.M 2014 – 2019

41. Dr. Herdiat Sunarya 2019 – 2024

Keteladanan yang diwariskan kerajaan Pajajaran diteruskan oleh kerajaan Galuh.
 Para raja yang berjiwa agung ini menjadi inspirasi para pimpinan kabupaten Ciamis. Pemimpin dan rakyat kompak bersatu padu untuk mewujudkan masyarakat adil makmur.

Potensi alam Ciamis yang berupa perairan, sungai, gunung, sawah, kebun merupakan modal kekayaan yang perlu dikembangkan terus.

 Rakyat mengenyam pendidikan yang cukup dan merata. Hal ini merupakan modal yang bagus untuk mengembangkan potensi kabupaten Ciamis untuk menuju masyarakat yang ideal. Pembangunan segala bidang yang digalakkan pemerintah didukung penuh oleh segenap rakyat.

Masa depan kabupaten Ciamis tentu akan lebih cerah ceria. Prestasi gemilang masa kini perlu diteruskan. Dari Ciamis ini peradaban dibangun. Sumbang sih warga Ciamis sangat diharap. Ciamis sejahtera, maka Indonesia juga semakin jaya. Warga Ciamis telah berpengalaman dalam melintasi perjalanan sejarah besar.

Galuh sebagai kerajaan besar  tumbuh di daerah Ciamis. Masyarakat memiliki suri teladan pada masa silam. Untuk menatap masa depan yang lebih gemilang. Agar sejahtera bahagia lahir batin.

Oleh : Dr. Purwadi, M.Hum. 
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara  LOKANTARA. 
Hp 087864404347 

Minggu, 14 Februari 2021

SEJARAH ISTANA MAIMUN

A. Pembangunan Istana Maimun. 
Istana Maimun dibangun pada tanggal 26 Agustus 1887. Kasultanan Deli saat itu diperintah oleh Sultan Makmoen Al Rasyid. Seorang raja yang terkenal pandai bijak bestari. Termasyur karena wibawa pribadi nan mempesona. 

Lantai istana Maimun yang dibuat oleh Sultan Makmoen Al Rasyid terdiri dari dua tingkat. Terbagi menjadi tiga bagian. Yakni bagian induk, balai samping kiri dan balai samping kanan. Berdiri kokoh indah megah mewah meriah. Berwibawa sepanjang sejarah yang terarah. 

Resmi sudah proses pembangunan istana Kasultanan Deli. Bentuk bangunan memadukan unsur Melayu, Mughal India dan Romawi Eropa. Benar benar bikin bangga. Mulai dari rakyat pedesaan perkotaan dan pegunungan. 

Tanggal 18 Mei 1891 Istana Maimun resmi digunakan untuk melakukan pelayanan publik. Tata kelola pemerintahan dilaksanakan dengan rapi tertib. Rakyat Kasultanan Deli mengalami masa jaya makmur. 

Undangan peresmian disebarkan ke seluruh kerabat kerajaan Nusantara. Antar Kraton terjalin persahabatan yang akrab. Karaton Surakarta Hadiningrat mengutus putra mahkota. Beliau adalah Gusti Raden Mas Malikul Khusna. 

Kedatangan beliau di Istana Maimun pada tanggal 15 Mei 1891. Selama jadi tamu kerajaan, sempat pula berkunjung ke Kasultanan Langkat dan Kasultanan Serdang. Pisowanan sesama raja untuk menjaga kharisma utama. 

Kunjungan ini diulangi lagi tahun 1915. Beliau sudah jadi raja Surakarta Hadiningrat dengan gelar Sri Susuhunan Paku Buwana X. Tradisi ini merupakan kelanjutan yang telah dirintis oleh para leluhur. Misalnya sejarah pertemuan Tamasek tahun 1819.

Orang Jawa merantau ke pulau Sumatera atas undangan Kasultanan Deli. Warga transmigrasi diberi tugas yang terhormat dan bermartabat. 

Termasuk pembangunan istana Maimun tahun 1887. Asal usul hubungan ini terjadi saat Raffles mendirikan kota Tamasek Singapura yang terkenal. 
Pada tanggal 6 Pebruari 1819 diselenggarakan pertemuan Kraton Nusantara. Bertempat di kota Tamasek Singapura. Hari tanda ulang tahun negeri Singapura sampai kini. 

Hadir perwakilan kerajaan dari Ternate, Tidore, Goa, Tallo, Buton, Banjar, Cirebon, Surakarta Hadiningrat, Yogyakarta, Paku Alaman, Langkat, Deli, Serdang, Mangkunegaran. Mereka diundang dalam rangka peresmian Singapura sebagai sentral bisnis. 

Wakil dari Karaton Surakarta Hadiningrat dipimpin oleh GKR Kencono Wungu. Beliau adalah garwa prameswari Sinuwun Paku Buwana IV yang memerintah tahun 1788-1820. Delegasi Surakarta berjumlah 67 orang. 

Utusan ini terdiri dari unsur kepatihan, mandra budaya, purwa kinanthi, pengrawit dan penari. Rombongan berangkat dari pelabuhan Tanjung Emas Semarang menuju Tamasek Singapura. 

Diskusi antar raja menghasilkan beberapa informasi penting. Kasultanan Serdang, Deli dan Langkat membuka perkebunan kelapa sawit, karet, coklat, tembakau. Dibutuhkan tenaga dari Pulau Jawa, setelah diadakan pelatihan. 

Tenaga dari Jawa meliputi administrasi, transportasi, koki, tukang kayu, seniman. Sebagian tenaga manual yang bisa bekerja di sawah dan kebun. Malah sebagian mendapat kehormatan untuk bekerja di istana Kasultanan Deli. 

Ahli yang datang berasal dari Blitar, Ponorogo, Pacitan, Madiun, Wonogiri, Boyolali, Blora, Pati, Banyumas, Purworejo. Program transmigrasi berjalan lancar gancar. 

Tempat yang dituju yaitu Lubuk Pakam, Tanjung Morawa, Galang yang menjadi wilayah kekuasaan Sultan Deli. Lantas daerah Tebing Tinggi, Perbaungan dan Sei Rampah. Daerah ini dalam ranah kekuasaan Sultan Serdang. 

Kordinasi dilakukan dengan teliti cermat tepat. Sultan Langkat juga menyediakan tempat serta fasilitas yang sangat layak. Pendatang dari Jawa bisa bekerja dengan aman nyaman. 

Transmigrasi pada awalnya memang jasa diplomasi GKR Kencono Wungu atau Raden Ajeng Sukaptinah. Beliau bisa meyakinkan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat. Bahkan tenaga pikiran dan keahlian kerap dipakai Sultan Makmoen Al Rasyid. 

Warga transmigrasi betah tinggal di tanah Sumatera. Mereka hidup makmur sejahtera bahagia lahir batin. Kehormatan dan keberuntungan diwariskan secara turun tumurun. 

Cemerlang sekali prestasi warga transmigrasi. Pada tahun 1870 tenaga ahli dari Salatiga datang. Atas bantuan Sinuwun Paku Buwana IX yang memerintah tahun 1861-1893. Beliau berhubungan baik dengan istana Maimun. 

Pendatang dari Jawa terjadi lagi pada tahun 1915 atas bantuan Sinuwun Paku Buwana X. Beliau malah mengantar sampai tanah Sumatera. Raja Deli, Serdang dan Langkat menyambut dengan penuh rasa hormat. 

Tahun 1958 transmigrasi dilakukan dengan beda tempat. Umumnya tertuju daerah Metro Lampung. 

Daerah Jambi dijadikan tujuan transmigrasi tahun 1974. Mereka berasal dari Boyolali, Purwodadi dan Sragen. 

Bengkulu jadi tujuan transmigrasi tahun 1981. Mereka datang di daerah Muko Muko. 

Untuk kawasan Sumatera Utara terjadi kemajuan pola pikir. Transmigrasi dilakukan dengan swakarsa. Datang transmigrasi dengan kemampuan ketrampilan dan jaringan yang luas. 

Umumnya warga transmigrasi berhasil membangun hubungan baik dengan penguasa kerajaan. Terjadilah hubungan kerja yang saling menguntungkan. 

Dalam hubungan kerja ini warga transmigrasi mengedepankan prinsip kayungyun dening pepoyaning kautaman. 

Tenaga warga transmigrasi digunakan terus. Ini bentuk kehormatan dari istana. 

B. Bentuk Kekerabatan Istana Maimun. 

Istana Maimun dibangun dengan pola kerja sama. Warga transmigrasi dengan sukarela membantu tenaga sukarela. Mereka punya sikap rumangsa melu handarbeni. 

Transmigrasi didukung oleh Sulltan Deli, Serdang dan Langkat. Inilah yang membuat warga transmigrasi tersanjung. Mereka ingin berbalas budi. 

Kemurahan Kasultanan Deli, Serdang dan Langkat bagi warga transmigrasi dicatat dengan tinta emas. Hutang budi ini dikenang sepanjang masa. 

Kerajaan Serdang Darul Arif membangun peradaban berdasarkan keutamaan. Bagi warga transmigrasi, Sultan Serdang berbudi luhur yang mengagumkan. 

Peradaban besar dilakukan oleh Kerajaan masa silam. Sejarah berdirinya kerajaan Serdang berhubungan erat dengan Kesultanan Deli dan Kesultanan Langkat. Warga transmigrasi mengenang prestasi gemilang yang diukir dengan penuh pesona.

Transmigrasi berhasil dengan gemilang. Berturut turut raja yang memerintah Kesultanan Deli, yaitu:
1. Tuanku Panglima Gocah Pahlawan, tahun 1632-1668.

2. Tuanku Panglima Parungit, tahun 1668-1698.

3. Tuanku Panglima Padrap, tahun 1698-1728.

4. Tuanku Panglima Pasutan tahun, 1728-1761.

5. Tuanku Panglima Gandar Wahid, tahun 1761-1805.

6. Sultan Awaluddin Mangendar, tahun 1805-1850.

7. Sultan Osman Alam Shah, tahun 1850-1858.

8. Sultan Mahmud Al Rasyid, tahun 1858-1873.

9. Sultan Makmun Al Rasyid, tahun 1873-1824.

10. Sultan Osman Al Sani, tahun 1924-1945.

11. Sultan Perkasa Alam Shah, tahun 1945-1967.

12. Sultan Azmy Perkasa Alam Al Haj, tahun 1967-1998.

13. Sultan Osmab Perkasa Alam, tahun 1998-2005.

14. Sultan Mahmud Lamanjiji Perkara Alam, tahun 2005-2020.

Dalam kekerabatan Kesultanan Melayu, para raja masih ada hubungan famili. Antara sultan Serdang dengan Para Sultan Langkat pun berhubungan erat. Warga transmigrasi peduli istana. Adapun para Sultan Langkat yakni:
1. Panglima Dewa Shahdan, tahun 1568-1580.

2. Panglima Dewa Sakti, tahun 1580-1612.

3. Raja Kahar, tahun 1612-1673.

4. Bendahara Raja Badiuzzaman, tahun 1673-1754.

5. Raja Kejuruhan Hitam, tahun 1754-1818.

6. Raja Ahmad bin Raja Indra Bungsu, tahun 1818-1840.

7. Tuanku Sultan Musa Al Khalid Al Mahadiah Muazzam Shah, tahun 1840-1893. 

8. Tuanku Sultan Abdul Aziz Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1893-1927.

9. Tuanku Sultan Mahmud Abdul Jalil Rahmad Shah, tahun 1927-1948.

10. Tengku Athaar, tahun 1948-1990.
11. Tengku Mustafa Kamal Pasha, tahun 1990-1999.

12. Tengku Herman Shah, tahun 1999-2001.

13. Tuanku Sultan Iskandar Hilali Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2001-2003.

14. Tuanku Sultan Azwar Abdul Jalil Rahmad Shah Al Haj, tahun 2003-2020.

Program transmigrasi sukses selalu berhubungan dengan jasa kerajaan. Penulisan urutan raja berguna untuk memahami sistem kerajaan. Pewarisan nilai pun mudah dipetakan.

Keluarga transmigrasi senang hati pada istana. Sedangkan para raja kasultanan Serdang Darul Arif yakni:
1. Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1723-1767.

2. Sultan Amab Johan Pahlawan Alam Shah, tahun 1767-1817.

3. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah 1817-1850.

4. Sultan Basyaruddin Syariful Alam Shah, tahun 1850-1879.

5. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah, tahun 1879-1946.
6. Tuanku Rajih Anwar, tahun 1946-1960.

7. Sri Sultan Tuanku Abu Nawar Sharifaullah Alam Shah Al Haj, tahun 1960-2001.

8. Sri Sultan Tuanku Lukman Sinar Bashar Shah, tahun 2001-2011.

9. Sri Sultan Tuanku Ahmad Thalla Syariful Alam Shah, tahun 2011-2020.

Dukungan pada warga transmigrasi sangat berarti. Kerajaan Serdang masih berlangsung hingga kini. Kehidupan kerajaan dalam rangka keseimbangan jiwa raga. Lahir batin harus berjalan selaras serasi seimbang. Maka perlu belajar dari peradaban istana. 

C. Istana Maimun Laboratorium Kearifan Lokal. 

Kearifan lokal perlu digalu. Istana Maimun memberi pelajaran masa silam. Agar menjadi insan berbudi. 

Gagasan Luhur tentang warga transmigrasi berhubungan dengan kerja bakti. Pembangunan istana dibantu dengan tenaga sukarela. 

Istana Deli, istana Serdang dan istana Langkat punya gagasan luhur tentang konsep transmigrasi. 
Kesadaran untuk melestarikan sistem kerajaan perlu diberi tempat yang tepat.

 Rumusan konsep transmigrasi pada era modern ini sangat penting. Supaya tidak terjadi salah paham antar warga bangsa. Keselarasan menjadi cara utama.

Pada hari Senin tanggal 30 Desember 2020, Ir H Soekirman, Bupati Serdang Bedagai Sumatra Utara melakukan ziarah di makam Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah. Raja Kasultanan Serdang ini memerintah tahun 1879-1946. Makam raja Serdang ini berada di sebelah barat Masjid Raya Perbaungan.

Kasultanan Serdang Darul arif mengutamakan kearifan. Suri teladan banyak ditemukan dalam perjalanan kebijakan pemerintahan Sultan Serdang. Peribahasa Melayu Sergai mengajarkan keluhuran. Gajah mati meninggalkan gading. Harimau mati meninggalkan belang. Manusia mati meninggalkan nama.

Dalam perjalanan sejarah mesti berlaku pasang surut. Ajaran warisan nenek moyang ini sangat dihayati oleh Tengku Muhammad Ryan Novandi. Hal ini didukung benar oleh para pemangku adat Sergai. Darul arif berarti rumah pengetahuan.

Ilmu menyinari alam raya. Nilai Luhur yang bersumber dari sejarah kerajaan dapat menjadi panduan masa kini. Semasa hidupnya manusia harus punya nilai yang berguna. Yakni nama yang harum, karena jasa dan perjuangan yang agung. Nilai
keluhuran budaya Sergai sudah diwariskan oleh Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah. Beliau adalah raja Kasultanan Serdang yang memerintah tahun 1723-1767. Pancaran kejuangan menerangi jagad raya.

Sumber kearifan perlu dikaji secara ilmiah akademis. Dalam berbagai forum Ir H Soekirman, Bupati Sergai menekankan arti penting sejarah peradaban. Leluhur Tengku Ryan Novandi ini memang raja yang bijak bestari, berwibawa dan selalu memikirkan nasib rakyat. Wujud kesalahan sosial, sebagaimana tersurat dalam pantun Melayu.

Rahmatan lil Alamin, sifat rahman rahim, bertaburan ke segala penjuru. Kepedulian Raja Serdang pada rakyat pantas dijadikan sebagai suri teladan oleh generasi millenial. Pada tahun 1725 Tuanku Umar Johan Pahlawan Alam Shah membawa tim ekonomi ke daerah Lasem Rembang Jawa Tengah. Mereka melakukan studi lapangan yang menggabungkan teori dan praktik. Tim ekonomi Kasultanan Serdang belajar menejemen produksi trasi. Kegiatan ini dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Sergai secara kreatif. Budaya Melayu menyumbangkan kebijaksanaan.

Kunjungan kenegaraan dilacak, agar wawasan aparat bertambah luas. Kota Lasem Rembang memang pusat pengembangan maritim yang besar. Potensi kelautan, pelayaran, perdagangan maju dan modern sekali. Pelabuhan Lasem Rembang memiliki fasilitas lengkap. Meliputi perkantoran, transportasi, penginapan, pergudangan, pemasaran, wisata, kuliner serta perpustakaan. Refleksi historis menerangkan pemikiran sistematis. Perpustakaan sumber informasi.

Ekonomi kuat, negara bertambah sehat. Perekonomian berlanjut urut patut. Kedatangan Tim ekonomi Kerajaan Serdang disambut hangat oleh Raja Mataram, Kanjeng Sinuwun Amangkurat Jawi. Hubungan diplomasi antara Kasultanan Serdang dengan Kerajaan Mataram terjalin akrab. Kedua belah pihak saling bertukar cindera mata. Kerja sama ini dilaksanakan demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sesuai dengan UUD 1945 yang memajukan kesejahteraan umum. Kitab warisan kerajaan menawarkan petunjuk hidup.

Hendaknya warga transmigrasi belajar sejarah istana Maimun. Agar terjadi suasana harmoni. 

Labuh labet atau jasa pengorbanan amat dihargai. Warga transmigrasi diharapkan mau mengerti asal usul bibit kawit. 

Pelaku sukses generasi transmigrasi terjadi pada semua bidang. Meliputi politik, ekonomi dan budaya. 

Pujangga kerajaan berpikir kedamaian. Nasihat Ir H Soekirman pada yang muda memberi pencerahan. Sebagai keturunan langsung Dinasti Kasultanan Serdang, tentu saja Tengku Ryan berusaha melanjutkan tradisi kejuangan. Ketika membaca sejarah masa lampau, tentu banyak pelajaran yang bisa diambil.

 Kerajaan Serdang lantas dipimpin oleh Sultan Aman Johan Pahlawan Alam Shah tahun 1767-1817. Kasultanan Serdang makin makmur sejahtera bahagia. Inilah tujuan bernegara.

Gelar kerajaan punya konsekuensi tindakan. Para Raja Serdang bekerja ulet untuk membangun segala bidang. Pertanian menyediakan pangan berlimpah ruah. Perkebunan mendatangkan barang komoditas mahal. Perdagangan memberi keuntungan berlipat ganda. Seluruh rakyat negeri dalam keadaan suka gembira. Semua merasa aman damai. Kerajaan Serdang Darul Arif sumbernya kearifan lokal.

Wacana seluk beluk kerajaan mendapat perhatian dari generasi penerus. Dalam dialog kebudayaan di rumah kayu, Tengku Muhammad Ryan Novandi yang lahir di Medan pada tanggal 7 Nopember 1992 ini suka sejarah masa silam. Dengan belajar dirinya bisa bercermin tentang peradaban. Tengku Ryan Novandi belajar di SD Harapan 1 Medan, SMP Harapan 1 Medan, SMA 1 Medan. Selama menempuh pendidikan inilah jiwanya selalu terasah dengan nilai kearifan lokal. Memang sebaiknya punya akar budaya sendiri. Terutama dari sistem kerajaan.

Pengetahuan dan pengalaman bergerak maju. Secara pribadi ilmu pengetahuan diusahakan terus menerus. Jiwa kebangsaan semakin terpatri mendalam setelah menempuh kuliah Bachelor of International Business Kuala Lumpur Malaysia tahun 2004. Lalu ilmunya diperdalam lagi dengan mengambil program Master of International Business di Boston Amerika Serikat tahun 2015. Kepribadian makin mantab yang didukung pendidikan. Inilah makna Darul Arif.

Para Sultan diajak rembugan. Menurut Ir H Soekirman, kepribadian perlu diasah lewat pendidikan dan pengalaman. Lengkap sudah wawasan lokal nasional global sebagai bekal pengabdian pada masyarakat luas. Peranan para Sultan sebatas bidang kebudayaan.

Rumusan pujangga istana tepat sekali. Butir butir kearifan lokal masih relevan. Kebesaran masa lampau menjadi inspirasi bagi Tengku Ryan Novandi. Pertemuan Sultan Aman Johan Pahlawan Alam Shah dengan Kanjeng Sinuwun Paku Buwana IV, Raja Karaton Surakarta Hadiningrat terjadi pada tahun 1803 di Kota Tamasek Singapura. Pembicaraan pokok kedua pemimpin mengenai tata niaga gatam. Permaisuri Sinuwun Paku Buwana IV bernama Kanjeng Ratu Kencono Wungu. Beliau direktur pabrik garam Kalianget Madura. Pernah datang ke Perbaungan untuk membicarakan strategi pemasaran garam. Sistem ekonomi kerajaan juga menciptakan kemakmuran.

Darul Arif berkaitan dengan katalog pustaka. Buku referensi bisa menjadi bahan pertimbangan. Perhatian Tengku Ryan pada perjuangan Kasultanan Serdang selalu tinggi. Misalnya kiprah keutamaan Sultan Thaf Sinar Basyar Shah. Beliau menjadi raja Serdang tahun 1817-1850. Demi memajukan budaya Melayu, para pakar diminta untuk menyalin ulang kitab kitab klasik. Kesusateraan Melayu berkembang di Aceh lewat tangan pujangga Hamzah Fansuri, Syekh Abdur Rauf Singkel dan Syamsudin Al Sumatrani. Karya karyanya lestari sepanjang masa.

Kajian akademik membuktikan pujangga Karaton memang hebat. Buku karangan Pujangga Kerajaan Samudra Pasai, Nuruddin Ar Raniri ditulis dan diperbanyak. Judulnya kitab Bustanus Salatin, yang berarti taman para raja. Isinya tentang Ketuhanan, kemanusiaan, kebangsaan, kerakyatan dan keadilan. Secara akademik kerap dikaji buat penyusunan ilmu pengetahuan.

Kesusateraan Melayu berkembang di Kasultanan Serdang. Sultan Thaf Sinar Basyar Shah seorang raja yang mengutamakan nilai budaya. Seniman Serdang yang berasal dari wilayah Pantai Cermin, Tanjung Beringin, Dolog Masihul, Sipispis, Sei Rampah, Tebing Tinggi diajak berguru di Pulau Penyengat, Tanjung Pinang. Di sini pula berkembang Sastra gurindam.

Bahasa menunjukkan bangsa. Studi banding Kesusateraan berhasil mencetak ahli pantun. Pada tahun1837 mereka belajar menyusun pantun Melayu. Terdiri atas pantun keagamaan, pantun orang tua, pantun jenaka dan pantun anak anak. Pendidikan karakter dibentuk dengan pendekatan budaya. Pantun Melayu sarana pembelajaran karakter buat para pelajar.

Anak negeri mengerti sejarah nenek moyang. Informasi masa silam dibaca Soekirman melalui buku silsilah, babad dab hikayat. Teknologi modern masuk ke wilayah Serdang Bedagai berkat usaha keras Sultan Basyaruddin Syarifatul Alam Shah. Beliau raja kasultanan Serdang yang memerintah tahun1850-1879.

 Ekspor tembakau tahun 1870 dilakukan dengan jumlah 3,5 juta kg. Tentu kas kerajaan penuh, negara pun amat makmur. Pembangunan rel kereta api mulai dari Medan sampai Aceh. Juga jalur kereta api dari Medan hingga Rantau Prapat, Labuhan Batu. Megah sekali adopsi teknologi modern. Kerajaan juga mendukung hadirnya modernisasi.
Sei Ular membelah kota Perbaungan. Sergai dekat dengan kota Medan.

Istana Maimun makin bersinar terang. Pembangunan stasiun dan rel Kereta Api dilakukan oleh Deli Spoorweg Maatschapipij Medan Aceh. Diresmikan oleh Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah tahun 1883, yang mewakili Kasultanan Serdang. Sultan Mahmud Al Rasyid mewakili Kasultanan Deli. Sultan Al Sayyid Sharif Ismail mewakili Kasultanan Siak. Kepanitiaan dilaksanakan oleh Bahkoda Ngah Timbal, Wak Wak, Salein, Tok Manis, Dolah, Wakil, Penghulu Kampong Syah Bandar Hamid, Tuan Haji Cut. Istilah kerajaan yang indah, membuat suasana megah.

Kemegahan itu perlu diteruskan. Kerajaan Melayu punya prestasi gemilang. Tengku Ryan Novandi bertekad melanjutkan perjuangan luhur. Mereka berjasa menghiasi peradaban masyarakat dunia. Dari Sergai butir butir kearifan lokal dipersembahkan buat ibu pertiwi nan abadi.

Bangunan istana Maimun memancarkan kewibawaan. Masa silam punya kejayaan yang membanggakan. 

D. Istana Maimun Pengokokoh Jatidiri Bangsa 

Program transmigrasi terbukti menjadi sarana ampuh untuk membina rasa kebangsaan. Pembauran antar suku adalah praktek kehidupan yang menjunjung tinggi nilai keberagaman. 

Prinsip Bhinneka Tunggal Ika telah membudaya. 
Kesultanan Serdang Memancarkan kewibawaan negeri. Jasa mereka berlimpah ruah. 

Pancaran kewibawaan bersumber dari tradisi bisa lebih lestari. Maka pembangunan kembali Istana Serdang Bedagai pada tanggal 7 Januari 2012. Istana megah mewah indah berwarna kuning cerah. Kepemimpinan Tengku Erry Nuradi – Soekirman menjadi pelopor utama.

Dwi tunggal seharusnya manunggal. Pemimpin Sergai melakukan tindakan nyata. Bupati Tengku Erry Nuradi didampingi Wakil Bupati Soekirman. Pewaris budaya Melayu berkewajiban untuk menganyam peradaban. Demi memperkokoh jati diri bangsa dan kepribadian nasional. Kesadaran kultural ini dijiwai betul oleh Tengku Muhammad Ryan Novendi. Sebagai cermin mulia atas keagungan sejarah Kesultanan Serdang yang terus memberi inspirasi untuk kembali pada tradisi.

Guru sejarah punya peran utama. Pengenalan sejarah sebaiknya diajarkan pada peserta didik. Pesan luhur itu dilanjutkan oleh sang ayah, Dr Tengku Erry Nuradi M.Si. Beliau menjabat Bupati Serdang Bedagai tahun 2005 -2013, Wakil Gubernur Sumatera Utara tahun 2013 – 2014. Kemudian menjadi Gubernur Sumatera Utara tahun 2014-2018. Tengku Rizal Nurdin abang Tengku Erry Nuradi juga menjabat sebagai Gubernur Sumatera Utara. Kasultanan Deli, kasultanan Langkat, kasultanan Serdang menambah Wibawa.

Penghormatan masa lalu diperlukan sikap rendah hati. Ir H Soekirman mendampingi Tengku Erry Nuradi tahun 2005-2013. Bupati dan Wakil Bupati Serdang Bedagai punya emosi sejarah yang kuat. Bahkan Ir H Soekirman menjadi Staf Ahli Tengku Rizal Nurdin, Gubernur Sumatera Utara. Beliau kakak kandung Tengku Erry Nuradi. Keduanya pewaris kerajaan besar.

Mereka punya kewajiban untuk pelestarian. Generasi muda tinggal melanjutkan rintisan para senior. Pada diri Tengku Ryan Novendi mengalir darah kepemimpinan. Tenaga pikiran keluarga agung ini dipersembahkan buat kemakmuran rakyat. Sebagaimana kebajikan yang ditanam oleh Kasultanan Serdang. Anak cucu memetik manisnya tanaman buah. Jasa leluhur dipahami secara jujur.

Manisnya peradaban karena pengakuan. Catatan emas menorehkan kenangan manis. Pada tahun
1905 Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah datang ke Karaton Surakarta Hadiningrat. Beliau bertemu dengan Sri Susuhunan Paku Buwana X. Keduanya membahas struktur Dewan Karaton atau Rijkraad. Lembaga legislatif Kerajaan ini dipimpin oleh KGPH Hangabehi. Rupanya kerajaan Serdang sudah mulai menerapkan sistem monarkhi konstitusional. Konsep trias politika memang cocok untuk masyarakat modern. Ini demi memadukan unsur peradaban secara akulturatif. Alangkah mulia bila tetap berlanjut.

Sumbangsih kerajaan Serdang nyata sekali. Pergerakan nasional berhubungan dengan lahirnya beragam organisasi. Konggres Syarikat Islam tahun 1914 di Surabaya dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto. Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah diundang sebagai tamu kehormatan. Bahkan nanti didaulat sebagai anggota dewan pembina Syarikat Islam. Beliau juga menjadi dewan pertimbangan Perguruan Taman Siswa untuk wilayah Sumatera Utara. Dalam pergerakan nasional beliau amat aktif, bersama dengan bangsawan Istana Langkat, Tengku Amir Hamzah. Sastrawan besar ini dikenal sebagai pelopor pujangga baru. Masa ini gemilang atas tumbuhnya kesusasteraan.

Kuat dakam prinsip, luwes di lapangan. Pergaulan luas lintas batas dilakukan keluarga kerajaan. Pada tahun 1944 Sultan Sulaiman Syariful Alam Shah berhubungan erat dengan Tengku Muhammad Hasan. Kelak menjabat sebagai Gubernur Sumatera. Para pejabat Kasultanan Serdang, Deli dan Langkat banyak yang berhubungan dengan Dr Radjiman Wedyadiningrat, Ketua BPUPKI atau Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Periode sejarah berubah warna.

Peran warga transmigrasi dalam pembangunan istana cukup nyata. Istana Maimun dan Istana Serdang mendapat bantuan tenaga sukarela. 

E. Kerja Bakti dalam Membangun Istana. 

Perantau Jawa memegang ajaran leluhur. Mereka biasa kerja bakti, gugur gunung, gotong royong, sambatan, rewang. 

Bangunan istana Maimun dilakukan dengan semangat kebersamaan. Sinuwun Paku Buwana IX hadir saat awal pembangunan yang dimulai tanggal 26 Agustus 1887.

Kawula Karaton Surakarta Hadiningrat yang bekerja di Medan dan Serdang dihimbau untuk turut serta dalam kerja istana. Secara bergiliran mereka membantu tenaga. Kerja bakti bergiliran tanda hormat. 

Inilah bukti nyata sikap kebersamaan. Pengakuan atas perubahan disikapi dengan bijak. Pada tanggal 5 Oktober 1945 Kasultanan Serdang, Kasultanan Langkat, Kasultanan Deli sepakat bergabung pada Pemerintah Republik Indonesia. Ketiga kerajaan ini dengan sepenuh jiwa raga turut membantu berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini fakta historis yang terbukti dengan tulisan.
Perubahan besar sedang terjadi. Gelombang pasang surut. 

Sayang seribu sayang. Ada elemen masyarakat yang perlu diberi pelajaran dan peringatan. Pada tanggal 3 juli 1946 mendapat serangan PESINDO KIRI. Organisasi Pergerakan Sosilisme Indonesia itu menjalankan program dengan kekerasan. Bahkan lebih sering melakukan tindak kriminal. Mereka melakukan kekacauan di seluruh swapraja. Setelah keadaan reda damai, sejarah harus diluruskan kembali. Kesalah pahaman diuraikan dengan rasa kebersamaan.

Pelan pelan situasi mereda. Kenyataan berbicara dengan sebenarnya. Hubungan antara Kasultanan Melayu dengan Pemerintah RI selalu harmonis sampai sekarang. Kasultanan Melayu Deli, Langkat dan Serdang menitik beratkan pada kegiatan budaya. Jauh dari kegiatan politik praktis. Dengan dukungan pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai kebudayaan Melayu Sergai berkembang dengan elok nan menawan. Cocok untuk bahan ajar di sekolah. Sebagai bahan muatan lokal di sekolah.

Untung sekali bagi warga Sergai. Sejak tahun 2013 Ir H Soekirman menjabat sebagai Bupati Sergai. Istana kasultanan Serdang dijadikan pusat kegiatan budaya. Kontribusi riil sangat dimanfaatkan oleh masyarakat. Tengku Erry Nuradi selaku Pembesar Propinsi Sumatera Utara memberi dukungan maksimal. Sei Ular yang membelah Perbaungan seolah olah menghidupkan ibukota Kesultanan Serdang Darul Arif.

Peran ibu ibu juga amat penting. Hj Marliah Soekirman bergandengan erat dengan Hj Evi Diana Sitorus. Keberadaan Tengku Ryan Novendi sebagai wakil generasi millenial amat penting. Ibunda Hj Evi Diana Sitorus mengajarkan kesahajaan kesopanan kesusilaan keramahan kemurahan. 

Pembangunan istana berjalan lancar. Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Adaptif dalam segala cuaca. Putri kerajaan biasa berkiprah dalam bidang budaya.

Kerja sama bersatu padu untuk maju. Hidup harus saling menasihati. Nasihat sang ibu terkait dengan pengalaman sebagai anggota DPRD Propinsi Sumut. Tentu saja Ibu Hj Evi Diana Sitorus sebagai ketua penggerak PKK Kabupaten Serdang Bedagai dan PKK Propinsi Sumatera Utara menambah bobot. Tengku Ryan Novandi mendapat ilmu pengetahuan dari sumber langsung. Mata air kebijaksanaan mengalir jernih.

Terkenal sekali Selat Malaka mengalirkan pelajaran hidup. Pengalaman adalah guru yang terbaik. Tengku Muhammad Ryan Novandi selalu berkiprah. Ketua bidang investasi BPD HIPMI Sumut 2017-2020. Wakil ketua umum bidang pembinaan jaringan PW JAPNAS Sumut 2017-2022. Presiden JCI Medan 2018. Senator JCI Medan 2018-2020. Wakil ketua Gerakan Pemuda Alwasliyah Medan 2019-2020. MABMI Medan 2020-2025. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kemaslahatan umat dan rakyat. Daratan dan lautan menyediakan kenikmatan. Dengan seni hidup lebih indah.

Berakit rakit ke hulu. Berenang renang ke tepian. Bersakit sakit dahuku. Betsenang senang kemudian. Bekal hidup cukup untuk membina bahtera. Kegiatan Tengku Ryan Novandi mendapat dukungan penuh dari Ariska Putri Pertiwi. Istri tercinta ini memberi seorang buah hati. Semangat berjuang untuk kemakmuran negeri senantiasa menyala dalam hati sanubari. Lancar kaji karena diulang. Pasak jalan karena ditempuh. Dengan agama hidup akan terarah.

Dengan ilmu hidup lebih mudah. Ilmu adalah pelita. Al ilmu al nur. Kepada siapa pun Tengku Ryan Novandi belajar tentang kehidupan. Ir H Soekirman Bupati Sergai diajak membahas tentang kesejahteraan rakyat pada tanggal 27 Nopember 2020. Bertempat di Rumah Kayu Medan. Tengku Ryan menawarkan konsep Sergai yang unggul, inovatif dan berbudaya. Tawaran ideal untuk menyongsong masa depan.

Tukar pikiran, mengasah gagasan. Dialog antar generasi terselenggara. Ir H Soekirman selaku Bupati Serdang Bedagai pun memberi penjelasan yang meyakinkan. Dimulai dengan paparan mengenai tata kelola pemerintan yang bersih, jujur, transparan dan melayani. Untuk itu diperlukan pengalaman, wawasan, kepedulian yang memadai. Semua konsep itu ditujukan untuk menjunjung tinggi kepentingan dan kebutuhan rakyat Serdang Bedagai. Semua berjalan lancar mulus halus. Berkat usaha yang tulus.

Kasultanan Serdang menjadi sumber energi. Untuk itulah H Soekirman menyempatkan berdialog tentang nilai kearifan lokal. Sejarah menyediakan kearifan lokal yang tiada habis habisnya untuk digali. Sebagai sarana membentuk pribadi paripurna.

Masa depan dirumuskan pada hari ini. Dari sejarah itu pula kebajikan tersedia. Ir H Soekirman sebagai pemimpin mengajak untuk menghormati Sejarah Kasultanan Serdang. Dengan berpijak pada kekayaan nilai budaya Melayu Sergai, Tengku Ryan Novandi berusaha mengabdi pada Serdang Bedagai. Dengan ketulusan hati, Tengku Ryan berbakti pada ibu pertiwi. Dengan semangat tekat kuat, Tengku Muhammad Ryan Novandi berjuang mewujudkan kesejahteraan rakyat jiwa raga lahir batin awal akhir.

Sumber kearifan sudah tersedia. Pelajaran atas sejarah kesultanan Serdang adalah kemuliaan. Perawatan atas istana Kasultanan Serdang merupakan bentuk penghormatan nyata Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai atas semboyan Tanah Bertuah Negeri Beradat yang masyhur.

Kesultanan Serdang Darul Arif pada masa kini, selalu berusaha melestarikan budaya. Bersama dengan Pemerintah Kabupaten Serdang Bedagai Sumatra Utara, kebudayaan akan semakin jaya maju lestari.

Program transmigrasi yang dilakukan sejak tahun 1819 berbuah manis. Proses pembauran antar suku berjalan lancar. Perkawinan antar golongan sudah terbiasa. Inilah praktek Bhinneka Tunggal Ika. Berbeda beda tetapi tetap satu. Warga transmigrasi menghayati ajaran leluhur. 

Tenaga bahu suku lan panemu dipersembahkan buat kejayaan Kasultanan Deli. Istana Maimun mendapat bantuan dari warga transmigrasi. Secara bergiliran mereka turut kerja bakti. 

Istana Maimun Medan berdiri kokoh megah indah mewah meriah. Beralamat di Jl Brigjend Katamso 66 Medan Sumatera Utara. Peninggalan Sultan Makmoen Al Rasyid sungguh mengokohkan jatidiri dan kepribadian bangsa.

Oleh: Dr. Purwadi M.Hum.
Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara – LOKANTARA
Hp 087864404347