Minggu, 31 Januari 2021

SEJARAH GUNUNG ANJASMORO TEMPAT SEMEDI BANGSAWAN MAJAPAHIT

A. Daya Linuwih Gunung Anjasmoro. 

Anjasmoro adalah putri Patih Logender yang amat cantik. Mustikaning putri, tetungguling para widodari. Bebasan sugih rupa kurang candra. 

Gunung Anjasmoro merupakan tanda hormat. Keluhuran budi Putri Anjasmoro layak dikenang sepanjang masa. 

Asmarandana. 

Anjasmara ari mami. Mas mirah kulaka warta. Dasihmu tan wurung layon. Aneng kitha Probolinggo. Prang tandhing lan Wurubisma. Kariya mukti wong ayu. Pun kakang pamit palastra. 

SEJARAH KARTASURA SEBAGAI IBUKOTA MATARAM

1.Berdirinya Kartasura sebagai Ibukota Kraton Mataram. 

Kartasura kota yang sangat penting. Sejarah Kabupaten Sukoharjo berhubungan dengan pembukaan wilayah Kartasura pada tahun 1677. Pelopornya adalah Gusti Raden Mas Rahmat. Beliau adalah cucu Pangeran Pekik, Bupati Surabaya. Gusti Raden Mas Rahmat merupakan putra Sinuwun Amangkurat Tegal Arum yang menikah dengan Kanjeng Ratu Kulon. 

Kelak Gusti Raden Mas Rahmat menjadi raja Mataram dengan gelar Sri Susuhunan Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya . Pada masa pemerintahan Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Amral atau Amangkurat Surabaya ini, kraton Mataram beribukota di Kartasura. Kartasura dipilih sebagai ibukota Mataram oleh Sri Susuhunan Amangkurat II atau Amangkurat Surabaya tahun 1677. Letak Kartasura amat strategis. Terhubung langsung dengan jalur penting kota di pesisir dan pedalaman. Umbul Cakra dan Pengging mengalir ke Kartasura dan bertemu di Kali Larangan. Wilayah Sukoharjo ini punya sistem pengairan maju yang dipimpin oleh KRT Tirtonegoro. 

SEJARAH GOA SELOMANGLENG TEMPAT SEMEDI PARA BANGSAWAN KEDIRI

A. Dewi Kilisuci di Pertapan Goa Selomangleng. 

Goa Selomangleng terkenal sebagai tempat untuk manungku puja. Dewi Kilisuci mengajarkan kawruh kasampurnan di pertapan goa Selomangleng. Agar dunia selalu ayu hayu rahayu. 

Para putri Kediri sejak dulu terkenal cantik rupawan. Dalam seni pedalangan kecantikan seorang wanita digambarkan lewat sulukan dan janturan. Keagungan dan keanggunan wanita dilukiskan sangat sempurna. 

Suluk keputren memberi narasi tentang anngunnya metafora wanita. 

Wanodya ayu utama ngambar aruming kusuma, wadana asawang sasi ri sedheng purnama sidi, o netra njahit esmu lindri, grana rungih milangeni, tuhu mustikaning putri tetungguling widodari. 

Kamis, 28 Januari 2021

SEJARAH TARI GANDRUNG MENDATANGKAN KEMAKMURAN

A.Tari Gandrung Membuat Kesuburan Tanah. 

Kadang tani hidup dengan bercocok tanam. Petani menanam pala wija, pala pendhem, pala simpar, pala kitri, pala gandhul. Mereka hidup subur makmur di alam pedesaan. 

Cocok tanam dimulai dengan ritual adat. Mereka nanggap tari gandrung dengan iringan kendang kempul. Seni edi peni bisa membuat kesuburan tanah. Budaya adi luhung mendatangkan kemakmuran. 

Gelar seni gandrung dengan iringan kendang kempul dilakukan di Alas Purwo. Bagi kalangan masyarakat Jawa, Alas Purwo dianggap sebagai tempat nenuwun. Tiap punya hajad mesti melakukan upacara yang disertai dengan pentas tari gandrung, iringan musik kendang kempul. Tata cara sesuai dengan paugeran baku  yang sudah diwariskan turun tumurun. 

Rabu, 27 Januari 2021

SEJARAH ALAS PURWO TEMPAT SEMEDI RAJA AIRLANGGA

A.Alas Purwo sebagai Papan Nenuwun. 

Bagi kalangan masyarakat Jawa, Alas Purwo dianggap sebagai tempat nenuwun. Tiap punya hajad mesti melakukan tata cara sesuai dengan paugeran yang sudah diwariskan turun tumurun. 

Alas Purwo berada di Kabupaten Banyuwangi. Dari segi makna memang mengandung ajaran filosofis luhur. Banyuwangi Berarti Air yang Selalu Menaburkan Bau Harum Semerbak ke Segala Penjuru

Masyarakat sekitar alas Purwo ahli dalam olah sastra bahasa. Banyu artinya air. Wangi artinya harum. Ada istilah lain banyu, yaitu tirta, toya, her, udaka, ranu, tuban, har, sindu, sunda, sangkara, tita, sangaka, hap, warih.

Kata wangi disebut juga arum, amrik, mingeng, ngambar, wida. Banyuwangi mengandung arti air kehidupan atau tirta perwitasari yang membawa suasana harum semerbak. Masyarakat Banyuwangi selalu mantab dalam hal kepribadian, kokoh dalam hal jatidiri, riang gembira dalam segala suasana.

SEJARAH GUNUNG PANANGGUNGAN TEMPAT SEMEDI TRIBUANA TUNGGADEWI

A.Daya Magis Gunung Pananggungan. 

Dalam lintasan sejarah gunung Pananggungan disebut dengan gunung Jamurdipa. Kalangan penghayat Kejawen memberi nama Gunung Perwita. 

Nama perwita mengingatkan lakon Dewaruci. Raden Werkudara mendapat tirta perwita sari. Yakni ngelmu kasampurnan. Gunung Pananggungan juga tempat memperoleh kawruh sangkan paraning dumadi. 

Hakikat hidup ini yang dijalani Tribuana Tunggadewi. Raja Majapahit tahun 1328- 1350 melakukan lara lapa tapa brata di Gunung Pananggungan. Diikuti segenap abdi dalem Purwo Kinanthi yang membawa sesaji uba rampe. Dupa, ratus, rasamala, sekar wangi tersedia sebagai perlengkapan upacara. 

Selasa, 26 Januari 2021

SEJARAH KALI SERANG UNTUK TAPA NGELI JOKO TINGKIR

A. Tapa Ngeli di Aliran Kali Serang. 

Kali Serang  berhulu di kaki Gunung Merbabu. Digunakan untuk tapa ngeli oleh Joko Tingkir sejak tahun 1536.

Mas Karebet atau Joko Tingkir menjalankan lelaku di kali Serang. Mulai dari Tengaran, Suruh, Susukan, Karanggede, Wonosegoro, Juwangi, Penawangan, Purwodadi. Berlanjut ke Kudus, Demak, Jepara. 

Aliran Kali Serang sejauh 136 Km. Musim kemarau airnya kemricik. Musim hujan airnya gemrojok. Terakhir bermuara di pantai Kedung Malang, Kedung Jepang. Berbaur dengan perairan laut Jawa.